Sadar akan singkatnya hidup di dunia

Gambar di atas sangat tepat menggambarkan kehidupan ini. Seandainya semua orang di dunia sadar bahwa hidup di dunia ini singkat, mungkin hidup ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan. Namun tidak begitu adanya. Keserakahan akan prestasi dan prestise duniawi tetap merupakan bagian dari kehidupan ini. Nasehat untuk diri sendiri, yang (secara rata-rata umur manusia) telah menghabiskan lebih dari 50% kesempatan hidup di dunia ini. Walaupun kita tidak pernah mengetahui kapan ajal sampai.

Falsafah hidup

Tulisan ini ditulis dari atas tempat tidur dengan menggunakan iPad. Mungkin karena faktor umur, saya mengalami nyeri pinggang bahagian bawah ketika saya mencoba mengangkat seember air pagi tadi. Sampai sekarang masih terasa sangat sakit jika digerakkan. Alhasil, saya sangat susah bergerak. Namun saya masih bisa melihat video menarik, iaitu kuliah umum oleh Dahlan Iskan, menteri BUMN Indonesia pada 17 Maret 2012 di ITB di Youtube.

Hal yang paling menarik perhatian saya dari kuliah tersebut adalah pada bahagian terakhir, dimana Dahlan Iskan ditanya oleh seorang mahasiswa mengenai falsafah hidupnya. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak mempunyai falsafah hidup dan juga cita-cita. Cita-cita hanya dipunyai oleh anak-anak di kota, sedangkan beliau dibesarkan oleh orangtua yang miskin di kampung. Jangan menanyakan cita-cita, ditanya orang saja saya tidak pernah, kata beliau. Jadi hidup dibiarkan mengalir dengan sendiri. Harus mengalir dengan deras. Ada keuntungan dari hidup yang tidak punya cita-cita, iaitu hidup tidak dijalani dengan ngotot. Orang yang mempunyai cita-cita, seringkali dihadapkan dengan ‘dinding’ hambatan. Bayangkan kalau dinding tersebut susah dilewati. Orang yang punya cita-cita pasti akan berbenturan dengannya. Bagaimana kalau orang tersebut tidak tahan menghadapinya? Dapat kita bayangkan akibat psikologisnya. Orang yang membiarkan hidupnya mengalir, akan mencoba mencari jalan lain ketika dihadapkan dengan dinding yang sukar atau tidak bisa dilewati.

Jalan hidup

Di bawah ini adalah komentar dari Prof. Dieter Freude (Leipzig University) dari status facebook saya.

Janganlah kita berbicara mengenai tujuan akhir dari hidup. Jalanilah hidup secara ‘baik’, dan berusahalah menjadi orang yang ‘baik’. Janganlah dengan mengejar ambisi di dunia kita menjadi orang yang ‘tidak baik’. Insya Allah.

Real authors wanted

Judul tulisan di atas diambil dari majalah Nature terbitan 3 November 2011. Ternyata banyak ‘penulis hantu’ (ghost author) dan ‘penulis kehormat’ (honorary author) yang ditemui di 6 jurnal dalam bidang biomedik berimpak tinggi. ‘Penulis kehormat’ adalah orang yang sama sekali tidak berkontribusi (secara ilmiah) kepada artikel tersebut, sedangkan ‘penulis hantu’, adalah orang yang mempunyai kontribusi dalam artikel tersebut, tetapi namanya tidak dimasukkan dalam artikel.

Secara jujur, saya banyak menemui ‘penulis hantu’ (ghost author) dan ‘penulis kehormat’ (honorary author) yang saya ketahui disekitar saya !

Ini data yang diambil dari majalah Nature terbitan 3 November 2011.

Ini artikel yang dirujuk oleh Nature: http://www.bmj.com/content/343/bmj.d6128

Professional mentality of a professor

phd-comics-professoriat-hair-growth

Since I was promoted to a full professor last year, a lot of my friends call me “professor,” a title which sometimes makes me embarrassed and thinks: “Do I deserve to be called a professor?” I am still embarrassed because I feel my mentality does not reflect the professional quality of a ‘real’ professor. This article aims to describe the attitude and mindset that need to be possessed by a professor. I will strive toward it, Insha Allah.

Quality Mentality

This is the main characteristic of a professor, which is concerned with quality than quantity. Please read my article entitled Quantity or Quality? (in Indonesian). I tried to explain the importance of quality in research and teaching in that article. I think someone is not worthy of being a professor if he’s just relying on the quantity of his/her academic works only – although he/she has had long teaching experience.

Altruistic mentality

This is the second mentality that must be possessed by a professor – after he/she meets on the quality mentality. A dedication drives this mentality to teach and dissemination of his/her knowledge to others. According to Wikipedia: “Altruism is a concern for the welfare of others. It is a traditional virtue in many cultures, and a core aspect of various religious traditions, though the concept of ‘others’ toward whom concern should be directed can vary among cultures and religions. Altruism is the opposite of selfishness.“. This is very important because the professors are always dealing directly with the scientific community and students.

Educating mentality

Educating is not the same as teaching. In teaching, a professor is expected to be a role model for his/her students. It can not be said “educating” if a professor told that plagiarism is a disgraceful act, while he/she did not appreciate the hard work of students – such as by putting his/her name at the forefront of scientific publication – although all the results in scientific papers based on the outcome of hard work of students, from idea, making proposal and writing publication.

Learning Mentality

The professor should always update his/her knowledge all the time. Do not let students said he/she is not feasible as a supervisor. I once met a student who told me about this. It was very embarrassing.

Devotion Mentality

Devotion to science and knowledge is the professional mentality of a professor. There are still many “administrative professors” who do not have this mentality – where a person was appointed as a professor not because of his/her academic and scientific achievement but based on his/her administrative position. For example, a person is promoted to the rank of the professor because of his/her administrative positions such as dean or deputy rector.

Creativity Mentality

Creativity does not only belong to a professor but also by everyone. However, if the professors are not creative, there will be no discoveries generated by them.

Ethical Mentality

In this age of materialism, ethical issues are rarely addressed. Please refer to my article on this subject with the title: Scientific Ethics in Research and Higher Education in Indonesia (in Indonesian). Since the professor working in higher education, the ethic is the most important aspect to be considered and noticed.

Be honest with yourself – Do not oversell!

This article is just to remind myself that sometimes I was not honest with myself. Sometimes the “overselling” happen – selling something that is cheap or worthless. This often happens when we exaggerate the achievements we have accomplished.

Why overselling is not only found at sidewalks drug sellers, but also in people who are highly educated? There are several reasons.

The first reason is because there is a feeling inferior. This feeling causes people to act to exaggerate and “overselling” of their achievements, which sometimes is not remarkable achievement.

Secondly, perhaps because very high confidence, so that one felt he is the most wonderful, clever and knows everything.

Thirdly because the person misunderstood his abilities, so that he misjudged himself and the situation around him.

One advice to myself is: Be honest with yourself and humble – Do not oversell! Overselling attitude will harm ourselves, because eventually people will judge us by our words and actions.

Apa guna harta?

Tulisan ini terinspirasi dari ‘status’ seorang teman di Facebook. Kalau direnungkan, ternyata harta itu digunakan hanya untuk tiga hal saja:

Pertama, untuk barang yang akan menjadi busuk, iaitu makan dan minum.

Kedua, untuk barang yang akan menjadi lapuk, seperti rumah, mobil, pakaian, perhiasan dan lain-lain.

Ketiga adalah untuk hal-hal yang abadi, yang bisa menolong kita di dunia dan akhirat, seperti infaq, sedekah dan amal jariah lainnya.

Manusia itu bukan robot

work-life-balanceTulisan ini adalah renungan dan pencerahan yang berguna untuk saya pribadi dan mungkin bagi orang yang sempat membacanya.

Baru saja saya menemukan artikel di wikipedia yang menarik mengenai kehidupan yang seimbang dalam hidup (work–life balance). Manusia perlu hidup seimbang. Dalam artikel tersebut disebut bahwa keseimbangan kehidupan kerja adalah konsep yang luas termasuk memprioritaskan yang tepat antara “bekerja” (karir dan ambisi) di satu sisi dan “hidup” (kesehatan, kesenangan, waktu luang, keluarga dan spiritual) di sisi lain.

Dalam bahagian lain di artikel tersebut juga dinyatakan bahwa institusi haruslah menyadari betapa pentingnya keseimbangan hidup dan kerja untuk menghasilkan produktivitas dan kreativitas dari karyawan mereka. Penelitian oleh Kenexa Research Institute pada tahun 2007 menunjukkan bahwa institusi yang memperhatikan keseimbangan antara ‘bekerja” dan “hidup” tidak akan ditinggalkan oleh pekerjanya. Manusia itu bukan robot: bekerja, bekerja dan bekerja. Apalagi bekerja untuk kepentingan individu atau atasan, bukannya untuk kepentingan institusi atau komuniti.