Genuine or not genuine

Empat puluh tujuh tahun mengarungi hidup, saya bergaul dengan berbagai orang. Dari tukang parkir, pembantu rumah tangga, supir taksi, dosen, peneliti sampai menteri. Apa yang saya perhatikan dan rasakan adalah semakin rendah seseorang itu dalam strata sosial masyarakat, semakin genuine atau polos mereka. Semakin jujur mereka. Kepura-puraan akan semakin kentara jika berhadapan dengan orang yang mempunyai strata sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat. Semakin high politics

Tak terasa

Tak terasa, jika mengikuti umur Nabi Muhammad SAW yang wafat pada umur 63 tahun, tinggal 16 tahun sisa umurku ini. Apa kebaikan yang akan aku buat untuk 16 tahun yang akan datang? 

Mengurut dada dan mengucap Alhamdullilah

Perasaan sedih ketika saya mendengar saya dikutuk oleh orang di belakang. Apalagi oleh staf yang saya kenal dengan baik. Alhamdullilah, saya mendapat pelajaran dari website di bawah ini. Saya memaafkan orang yang mengutuk saya di belakang.

https://www.psychologytoday.com/blog/let-their-words-do-the-talking/201101/controlling-angry-people

http://unikversiti.blogspot.my/2012/01/orang-mengutuk-kita-di-belakang.html

Biasanya manusia akan suka kepada barang-barang percuma. Tetapi ramaikah yang suka kepada pahala percuma? Kalau anda salah seorang yang suka kepada pahala percuma, maka berlapang dada dan senyum-senyum lah jika anda diumpat dan dikutuk di belakang, kerana pahala orang yang mengumpat itu akan dapat kepada anda secara percuma.

Diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili, di akhirat nanti seorang akan terkejut besar apabila melihat catatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Maka, dia berkata kepada Allah: “Wahai Tuhanku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya? Maka Allah menjawab: Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui.”

Kenapa perlu mengumpat (ghibah) atau mengutuk orang di belakangnya? Jika ada suatu perkara yang seseorang itu buat silap, sepatutnya kita pergi padanya dan tegur dengan berhikmah secara berdepan, lebih-lebih lagi jika kesilapan yang dia lakukan itu hanya dosa kecil atau tersilap. Jika kita mengutuk seseorang itu di belakangnya, tak semena-mena pahala kita akan dikutip olehnya sedikit demi sedikit. Tak ke sangat rugi kita? Hanya sekadar mahu mempersenda, melepaskan marah atau ketidak-puas hatian yang sekejap hingga hilang banyak pahala.

“Janganlah sebahagian di antara engkau semua itu mengumpat sebahagian yang lainnya. Sukakah seseorang di antara engkau semua makan daging saudaranya dalam keadaaan dia sudah mati, maka tentu engkau semua membenci. Takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Menerima taubat lagi Penyayang.” (Surah Al-Hujurat : 12)

Mengetahui orang baik

Dalam keadaan krisis, sifat asli orang akan semakin nampak. Mengalami keadaan yang tidak baik sekarang ini, saya lebih mengetahui siapa orang yang baik hatinya dan siapa yang busuk hatinya. Siapa yang mementingkan diri sendiri dan tidak mempunyai empati atas kesengsaraan orang lain. Malah, ada yang sering berceramah masalah moral dan agama, yang sebenarnya hatinya busuk. Saya lebih tahu siapa orang yang tidak perlu dihiraukan. Ya Allah ..

Menilai sebuah prestasi – Manusiakan universitas

Kadang-kadang kita sangat takjub bagaimana seseorang atau organisasi dapat berprestasi tinggi. Untuk menilai prestasi, digunakanlah instrumen penilaian yang terukur yang disebut sebagai Key Performance Indicator (KPI). KPI menjadi bahan perbincangan hangat di universitas di Malaysia dan juga Indonesia karena digunakan untuk kenaikan pangkat dosen atau pensyarah. Hal ini bagus karena dapat mendorong prestasi. Semua staf dinilai dengan KPI, yang terukur dan diterjemahkan kepada angka-angka. Nah, angka-angka inilah yang dikejar oleh dosen atau pensyarah. Bagaimana cara mengejarnya adalah urusan lain. Boleh dengan cara yang bijak dan manusiawi atau dengan cara sebaliknya. Cara-cara inilah yang kadangkala tidak nampak karena semuanya sudah dibutakan dengan tujuan angka-angka tersebut. Banyak indikator yang diperlukan untuk kenaikan pangkat, seperti publikasi di jurnal ilmiah, jumlah dana riset dan lain sebagainya.

Untuk mengejar angka-angka tersebut, dosen dan pensyarah mempunyai banyak strategi. Strategi yang paling manjur adalah dengan memperbudak mahasiswa. Hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang dosen atau pensyarah, karena tujuan seseorang menjadi dosen atau pensyarah adalah untuk mendidik mahasiswanya. Saya melihat sendiri kolega yang “mempergunakan” mahasiswanya untuk mengejar KPI dengan cara yang saya nilai tidak patut. Tersenyumpun mahasiswa tersebut tidak bisa karena dilingkungi oleh suasana stress yang berlebihan karena ditekan untuk mengejar KPI dosen atau pensyarahnya. Dosen atau pensyarah tersebut dapat berkilah jika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Jawabannya adalah, ini adalah bahagian dari proses pendidikan katanya. Tentu hasilnya dapat kita bayangkan. Produktivitas dalam menghasilkan data-data penelitian dan akhirnya publikasi meningkat. Nah, apakah ini dapat kita lihat sebagai sebuah prestasi? Kita perlu bijak melihat hal ini, terutama untuk saya dan juga rekan-rekan yang bekerja di universitas. Jangan lupa, tujuan utama sebuah universitas didirikan adalah untuk mendidik generasi penerus. Pikirkan dan renungkanlah.

“Memanusiakan manusia”, kata Profesor Fuad Hassan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Atau “Humanizing the University”, kata Profesor Graham Spainier, mantan presiden University of Penn State.

http://news.psu.edu/story/141425/2000/01/01/research/humanizing-university