Mengurut dada dan mengucap Alhamdullilah

Perasaan sedih ketika saya mendengar saya dikutuk oleh orang di belakang. Apalagi oleh staf yang saya kenal dengan baik. Alhamdullilah, saya mendapat pelajaran dari website di bawah ini. Saya memaafkan orang yang mengutuk saya di belakang.

https://www.psychologytoday.com/blog/let-their-words-do-the-talking/201101/controlling-angry-people

http://unikversiti.blogspot.my/2012/01/orang-mengutuk-kita-di-belakang.html

Biasanya manusia akan suka kepada barang-barang percuma. Tetapi ramaikah yang suka kepada pahala percuma? Kalau anda salah seorang yang suka kepada pahala percuma, maka berlapang dada dan senyum-senyum lah jika anda diumpat dan dikutuk di belakang, kerana pahala orang yang mengumpat itu akan dapat kepada anda secara percuma.

Diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili, di akhirat nanti seorang akan terkejut besar apabila melihat catatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Maka, dia berkata kepada Allah: “Wahai Tuhanku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya? Maka Allah menjawab: Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui.”

Kenapa perlu mengumpat (ghibah) atau mengutuk orang di belakangnya? Jika ada suatu perkara yang seseorang itu buat silap, sepatutnya kita pergi padanya dan tegur dengan berhikmah secara berdepan, lebih-lebih lagi jika kesilapan yang dia lakukan itu hanya dosa kecil atau tersilap. Jika kita mengutuk seseorang itu di belakangnya, tak semena-mena pahala kita akan dikutip olehnya sedikit demi sedikit. Tak ke sangat rugi kita? Hanya sekadar mahu mempersenda, melepaskan marah atau ketidak-puas hatian yang sekejap hingga hilang banyak pahala.

“Janganlah sebahagian di antara engkau semua itu mengumpat sebahagian yang lainnya. Sukakah seseorang di antara engkau semua makan daging saudaranya dalam keadaaan dia sudah mati, maka tentu engkau semua membenci. Takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Menerima taubat lagi Penyayang.” (Surah Al-Hujurat : 12)

Menilai sebuah prestasi – Manusiakan universitas

Kadang-kadang kita sangat takjub bagaimana seseorang atau organisasi dapat berprestasi tinggi. Untuk menilai prestasi, digunakanlah instrumen penilaian yang terukur yang disebut sebagai Key Performance Indicator (KPI). KPI menjadi bahan perbincangan hangat di universitas di Malaysia dan juga Indonesia karena digunakan untuk kenaikan pangkat dosen atau pensyarah. Hal ini bagus karena dapat mendorong prestasi. Semua staf dinilai dengan KPI, yang terukur dan diterjemahkan kepada angka-angka. Nah, angka-angka inilah yang dikejar oleh dosen atau pensyarah. Bagaimana cara mengejarnya adalah urusan lain. Boleh dengan cara yang bijak dan manusiawi atau dengan cara sebaliknya. Cara-cara inilah yang kadangkala tidak nampak karena semuanya sudah dibutakan dengan tujuan angka-angka tersebut. Banyak indikator yang diperlukan untuk kenaikan pangkat, seperti publikasi di jurnal ilmiah, jumlah dana riset dan lain sebagainya.

Untuk mengejar angka-angka tersebut, dosen dan pensyarah mempunyai banyak strategi. Strategi yang paling manjur adalah dengan memperbudak mahasiswa. Hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang dosen atau pensyarah, karena tujuan seseorang menjadi dosen atau pensyarah adalah untuk mendidik mahasiswanya. Saya melihat sendiri kolega yang “mempergunakan” mahasiswanya untuk mengejar KPI dengan cara yang saya nilai tidak patut. Tersenyumpun mahasiswa tersebut tidak bisa karena dilingkungi oleh suasana stress yang berlebihan karena ditekan untuk mengejar KPI dosen atau pensyarahnya. Dosen atau pensyarah tersebut dapat berkilah jika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut. Jawabannya adalah, ini adalah bahagian dari proses pendidikan katanya. Tentu hasilnya dapat kita bayangkan. Produktivitas dalam menghasilkan data-data penelitian dan akhirnya publikasi meningkat. Nah, apakah ini dapat kita lihat sebagai sebuah prestasi? Kita perlu bijak melihat hal ini, terutama untuk saya dan juga rekan-rekan yang bekerja di universitas. Jangan lupa, tujuan utama sebuah universitas didirikan adalah untuk mendidik generasi penerus. Pikirkan dan renungkanlah.

“Memanusiakan manusia”, kata Profesor Fuad Hassan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Atau “Humanizing the University”, kata Profesor Graham Spainier, mantan presiden University of Penn State.

http://news.psu.edu/story/141425/2000/01/01/research/humanizing-university

Humanizing the University
Graham Spanier
January 01, 2000

Early in my presidency at Penn State one of our deans called me, concerned that one of the college's best young faculty members, a rising star, was about to leave for another institution. "Please call and convince this person to stay," the dean asked. I invited the faculty member to meet with me. I can be persuasive, and I certainly tried to be.

I learned that this recently tenured associate professor had an offer from a top-ten department, whereas our department at Penn State was currently ranked in the second ten. The salary was going to be the same, so that wasn't an issue. We had given a huge amount of support during the faculty member's tenure here, favorable teaching assignments, release time to get a research program going. No complaints. I then proceeded to hear an analysis of the comings and goings of people in the field, an analysis of likely future ranking shifts due to retirements and hires, and other variables that reflected an undebatable, yet cold-blooded logic about academic hierarchies. The analysis gave me the chills. By the end of our conversation, I was almost glad this person was leaving. Why? Because I found, in listening, no attachment to Penn State after eight years, no feeling of gratitude for all that departmental colleagues had done, no expression of emotional attachments to Penn State students, in short no compelling reason to stay.

Nationwide, there is a conversation occurring about how to get faculty to be more actively involved with their universities. Many faculty members are really independent operators who are only marginally tied into the life of the university. Their allegiance is not to the institution for which they work, but to their discipline nationally and internationally, an orientation that tends to be reinforced by the academic reward structure. Hiring, promotion, and tenure decisions are based in the department, or college, and the department's strongest frame of reference is its academic discipline viewed globally. Our nation's research universities have spawned two faculties: those who do and those who don't—those who believe it is their responsibility to engage fully with each cohort of students and those who do not see this as their primary responsibility.

Must this be viewed as an "either/or" struggle? I believe an allegiance to one's university, pride in our shared mission and stature, commitment to our students, and loyalty to our colleagues can be entirely compatible with standards of academic excellence, prominence as a scholar, and national recognition as a department. I wish to challenge our faculty in particular to get more involved in the lives of our students.

I prefer not to fault individuals, since this situation exists at all leading universities. It is a situation of our own collective making. And despite all protestations to the contrary, we continue to orient the reward structure so that interaction outside the classroom with undergraduates counts for very little. To be honest, every experienced department head can point to casualties—cases of junior faculty members ultimately denied tenure because they became so immersed with student advising and programming that they neglected their scholarship. So let's admit up front that we indeed expect an exceptional level of scholarship from our faculty. Balance is the key. Balance.

Graham Spanier, Ph.D., is the president of Penn State. He holds four academic appointments—as professor of human development and family studies, sociology, demography, and family and community medicine. This essay is an excerpt from his 1999 State of the University Address.

About number and indicator

Number, number, number and number.

When the numbers started to be an indicator in many aspects of life, then there is a tendency that numbers judge the meaning of all things. When the numbers decide things, then the purpose of human life is reduced to the numbers.

The use of numbers to measure something physical is valid. It is not wrong. However, this is going wrong when we use a number as an absolute judgment to evaluate humanity. This phenomenon often occurs in our daily life. It is dangerous when human life and the meaning of life only judge by number. The number can easily manipulate.

Dimensi kehidupan

Penjelasan mengenai dimensi kehidupan dan Tauhid sebagai seorang muslim oleh Bang Imad (Dr. Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim) yang banyak memberikan kesadaran kepada orang yang membaca dan mendengarkan kuliah-kuliah beliau. Beliau lahir di Tanjung Pura, Langkat, 21 April 1931 – meninggal di Jakarta, 2 Agustus 2008 pada umur 77 tahun. Beliau adalah mantan pensyarah Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Kebangsaan (ITK) yang sekarang adalah Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada awal tahun 1970-an. Kuliah dan buku beliau mencerahkan saya dalam memandang kehidupan ini. Apalagi bulan ini adalah bulan ramadhan. Kita wajib mensyukuri nikmat hidup, kemerdekaan dan hidayah yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Tujuan hidup ini adalah mencari keridhaannya dan menjadi ulul albab dan mendapatkan al-hikmah. Terima kasih Bang Imad!

Biografi Bang Imad dapat dibaca di website berikut ini:
Rifki Rosyad, “A quest for true Islam”, Australian National University, 1995.

Kata kunci: hidup (nafsu dan akal), kemerdekaan (akal dan rasa), hidayah (ilmu dan iman).

Psikologi dari publikasi ilmiah

Sudah semua maklum dan mengetahui bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Dalam tulisan ini, saya ingin mengaitkan perilaku dengan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah adalah tulisan ilmiah yang dipublikasikan oleh manusia yang melakukan penelitian. Biasanya publikasi ilmiah ini diterbitkan di jurnal-jurnal ilmiah. Ada jurnal ilmiah yang ternama dan ada pula jurnal yang hanya sekadar untuk menampung tulisan-tulisan ilmiah yang tujuan dipublikasikannya adalah hanyalah untuk keperluan bukan ilmiah. Idealnya, tujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian adalah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan juga untuk mengembangkan ilmu itu sendiri. Namun, sekarang ini, itu bukan menjadi tujuan yang utama. Kadang-kadang hanya untuk menaikkan prestige universitas. Ada yang namanya impact factor dan h-index, yang merupakan istilah yang dipakai untuk keperluan bibliografi. Jujur saja, saya tidak mengenal istilah ini sewaktu saya postdoc di Hokkaido University tahun 1999-2002. Pada waktu itu, hal yang saya pikirkan adalah bagaimana membuat penelitian dengan sebaik-baiknya dan mempublikasikan di jurnal yang dikenal.

Melihat perkembangan saat ini, universitas-universitas di negara-negara berkembang lambat laun ingin meningkatkan profile universitas mereka sehingga menjadi universitas yang dikenal. Salah satu caranya adalah mengikut kriteria ranking yang ditetapkan oleh badan-badan tertentu, yang sebahagian dari badan-badan tersebut adalah perusahaan swasta, contohnya adalah QS Quacquarelli Symonds Limited. Sudah pasti tujuan utama dari perusahaan swasta ini adalah mendapat keuntungan finansial. Caranya adalah, mereka menetapkan kriteria ranking, dan universitas-universitas yang ingin masuk ranking mengikut program-program yang dibuat oleh perusahaan ini, yang biasanya mahal, untuk meningkatkan ranking mereka. Salah satu kritera dari ranking adalah jumlah dan juga citation dari publikasi ilmiah. Alhasil, banyak strategi dan upaya dilakukan, diantaranya adalah dengan memberikan reward oleh universitas. Contohnya adalah dengan insentif berupa uang dan kenaikan pangkat atas hasil publikasi ilmiah.

Alhasil, hal ini memberikan dampak yang saya pikir tidak begitu sehat dalam dunia pendidikan tinggi, dan juga mengubah perilaku. Tidak dipungkiri, ada yang menjadi lebih baik, dan ada juga sebaliknya. Ini yang saya sebut sebagai psikologi dari publikasi ilmiah. Semua orang berlomba-lomba untuk mengejarnya. Ada yang ‘licik’ dan ada pula yang ‘idealis’. Sifat ‘licik’ dan ‘idealis’ dapat dengan mudah dilacak dari profile publikasi mereka melalui Google Scholar, Scopus dan juga Researcherid. Salah satu kelicikan yang mudah nampak dari publikasi diantaranya adalah, ‘self-citation‘ dan mempublikasikan hasil penelitian yang mirip-mirip di berbagai jurnal (untuk meningkatkan jumlah). Karakter seseorang dapat terbaca dari psikologi dari publikasi ilmiah ini. Ada beberapa orang yang saya kenal yang karakternya sangat tepat digambarkan oleh cara mereka publikasi.

My new year’s resolution in 2013

Tomorrow, we will leave in 2012. Age increases. Hair is reduced. Hope to live longer in this world is decreasing. Measurable results and performance for the year 2012 was quite satisfactory, if viewed from the worldly aspects. Four times invited as a keynote speaker at international seminars in Indonesia and the United States. Twelve scientific publications with the cumulative impact factor are 25. Guiding twenty PhD students and two MSc students. But there are some questions that need to be answered in order to get a reward from Allah SWT and bring benefit to mankind.

Are all of these achievements started with good intentions, not to expect financial rewards, power, or just to show off?

Is all of this will bring benefits to the people?

To be honest, the answer is no.

Based on the above considerations and as noted on the front page of this website, the following is my resolution for next year.

The most important thing in my life is to be a good person. I will try to be a better person in 2013 and follow the following guideline: How to become a good person.