Politik dan kebohongan

Sebagai dosen dan mentor dari mahasiswa program doktor dan master, saya selalu mengatakan dan mengajarkan mahasiswa saya bahwa dalam menulis tesis atau makalah ilmiah haruslah selalu berdasarkan fakta yang dilandasi dengan hasil eksperimen yang tepat dan jujur — karena ini adalah landasan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika kita menulis dengan ‘tidak’ berdasarkan fakta, maka hasil tulisan tersebut mungkin dapat dikategorikan sebagai ‘sastra’. Kalau kita melihat film CSI: Crime Scene Investigation kita dapat melihat bahwa ketidakjujuran lambat laun akan terungkap dengan fakta-fakta yang akurat dan lengkap. Namun dengan permainan politik semua fakta-fakta tersebut dapat disamarkan dan diubah. Sungguh memuakkan melihat suasana politik dirantau ini yang banyak diisi dengan kebohongan dan ketidakjujuran — demi yang namanya kekuasaan. Saya jadi teringat bahwa “Politics is the study of the exercise of power” — kadang-kadang kebohongan dan ketidakjujuran merupakan permainan sehari-hari dari orang-orang yang bermain ‘politik’.

Harga minyak dan gaya hidup hemat

Apa hubungan antara harga minyak dengan gaya hidup? Pada pendapat saya terdapat hubungan yang sangat erat, apalagi dengan harga minyak yang melambung tinggi seperti sekarang. Saya menjadi malu ketika seorang profesor dari Jerman yang berkunjung ke universitas tempat saya bekerja, mengatakan kepada saya bahwa gaya hidup yang diamalkan disini adalah gaya hidup Amerika (American style) yang boros, sedangkan ekonominya tidak seperti ekonomi Amerika yang kuat. “Dengan harga minyak yang mahal saya akan bersepeda ke kampus”, katanya. Itulah yang dilakukannya dari dulu sampai sekarang di Jerman. Dengan kata lain sang profesor ini hidup berhemat. Saya juga mempunyai kenalan seorang profesor dari Jepang yang juga mengamalkan hidup hemat. Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun lalu, saya menaiki mobil “kecil” beliau yang hanya berharga sekitar 1 juta Yen, atau hanya sekitar 30 ribu Ringgit Malaysia. Saya yakin dengan gaji profesor di Jepang, beliau pasti mampu membeli mobil mewah. Dengan contoh yang saya ceritakan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa gaya hidup kita adalah boros dan tidak hemat, kadang-kadang “lebih besar pasak daripada tiang”. Dia hanya geleng-geleng kepala melihat gaya hidup disini, ketika beliau berkunjung kesini — walaupun dengan gaji mereka yang relatif jauh lebih besar dengan gaji orang-orang disini, mereka tetap hidup hemat. Dengan kata lain, walaupun kaya mereka tetap hemat. Banyak contoh gaya hidup boros disekeliling saya yang tidak dapat saya ceritakan disini, termasuk oleh golongan yang boleh dikatakan intelektual karena memiliki pendidikan yang tinggi.

Itulah perbedaan antara cara hidup orang Jerman dan Jepang dengan kita. Mereka hidup hemat. Oleh karena inilah mereka dapat membangun ekonomi mereka seperti sekarang ini. Rumus ekonomi yang sederhana mengatakan bahwa modal yang terkumpul merupakan selisih dari Gross National Product (GNP) dengan konsumsi dan ditambah dengan selisih antara import dan eksport. Kita dapat membayangkan apa jadinya jika konsumsi lebih tinggi dibandingkan dengan GNP. Dapat dikatakan bahwa dengan sifat hemat tersebut mereka dapat mengumpulkan modal yang banyak untuk membangun negara mereka.

Jadi, hiduplah hemat – apalagi dengan kenaikan harga minyak baru-baru ini. Tidak perlulah bermegah-megah dengan hidup boros, apalagi dengan penghasilan yang tidak memadai. Dengan hidup hemat, kita menjadi bersikap sederhana dan tidak pamer dengan kekayaan. Inipun sesuai dengan tuntutan agama kita, agama Islam: “Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan rasa sombong. “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung” (Al Israa’ [17]: 37). Wallahualam.

Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?

Apa itu budaya ilmiah atau biasa juga disebut sebagai budaya saintifik (scientific culture)? Apakah kita sudah memiliki budaya tersebut? Pertanyaan yang penting bagi institusi pengajian tinggi. Saya teringat dengan jawaban dari beberapa orang visiting professor yang saya tanyai apa syarat-syarat sebuah universitas bisa menjadi universitas yang terkenal — seperti universitas tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka berasal dari universitas yang memiliki prestasi akademik yang hebat; Osaka University, Hokkaido University, University of London dan Leipzig University. Kenapa kita tidak dapat seperti mereka? — walaupun kita memiliki fasilitas penelitian yang tidak kalah daripada mereka? Jawabannya adalah kita masih belum memiliki budaya ilmiah.

Patut disadari bahwa universitas tidak akan menjadi unggul dan dihormati dari segi akademik jika orang-orang yang berada dalam universitas tersebut tidak memiliki budaya ilmiah. Menurut saya, tidak ada jalan lain selain membangun dan melaksanakan budaya ilmiah untuk membawa universitas menjadi unggul dan disegani — karena inilah yang harus perlu dibina sejak awal universitas itu dibangun.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan “Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?”. Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui unsur-unsur yang diperlukan untuk membangun budaya ilmiah tersebut.

Norma ilmiah

  • Memberikan penghargaan (credit) yang sepatutnya kepada orang yang memberikan kontribusi kepada penelitian; pengarang bersama (authorship) atau ucapan terima kasih (acknowledgement) — (Catatan: Norma ini yang selalunya tidak diikuti — mungkin untuk kenaikan pangkat atau ingin dianggap hebat oleh orang lain).
  • Jujur dalam memberikan penilaian kepada hasil pekerjaan orang lain.
  • Publikasi di jurnal ilmiah yang dinilai oleh rekan sejawat (peer-reviewed journals) adalah media untuk menciptakan reputasi. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada jalan selain ini — reputasi ilmiah tidak akan tercipta melalui publikasi di koran dan televisi.

Ciri-ciri dari budaya ilmiah

  • Metoda saintifik.
  • Penilaian dari rekan sejawat (peer-reviewed system).
  • Akumulasi dari pengetahuan yang dipublikasikan dalam peer-reviewed journals dan disimpan untuk bahan rujukan.
  • Buku catatan laboratorium — (Catatan: Saya mengamati banyak kawan-kawan saya yang juga dosen, walaupun mereka lulusan dari perguruan tinggi ternama, mereka tidak mempunyai buku ini, walaupun ada — tetapi tidak ditulis dengan cara yang betul)

Kebiasaan ilmiah

  • Selalu mempublikasikan hasil penelitian. (Catatan: Masih banyak profesor yang sedikit sekali publikasinya, yang menandakan mereka tidak pernah melakukan penelitian yang bermutu — Apakah mereka masih dianggap pakar?)
  • Dapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya — PhD dalam bidang sains.
  • Pendidikan yang dimulai dengan bimbingan dan kemudian baru bekerja secara mandiri.
  • Mobilitas yang tinggi dari para saintis, berpindah dari satu universitas ke universitas yang lain.
  • Selalu berinteraksi dengan orang-orang yang pintar yang memiliki ketertarikan dalam bidang yang sama dalam sains.

Peraturan-peraturan dalam dunia ilmu pengetahuan

  • Menyelidiki efek dari satu variabel dengan cara mengontrol variabel-variabel yang lain.
  • Selalu beragumentasi berasaskan fakta-fakta yang betul.
  • Mengemukakan hipotesis, iaitu kesimpulan sementara dari proses penelitian, yang nantinya akan dibuktikan kebenarannya.
  • Selalu merujuk hasil penelitian orang lain.
  • Selalu menyimpan hasil-hasil penelitian dengan rapi, supaya orang lain dapat mengulangi eksperimen-ekesperimen yang telah dilakukan.
  • Penemuan yang luar biasa selalunya harus didukung oleh fakta-fakta pendukung yang juga luar biasa.
  • Teori dikatakan bagus jika teori tersebut dapat menjelaskan banyak fenomena-fenomena, dibandingkan dengan teori yang hanya sesuai untuk beberapa fenomena saja.
  • Jika data baru tidak sesuai dengan teori lama, salah-satu dari mereka — data baru atau teori lama tersebut — pasti tidak betul.
  • Alam semesta ini selalunya memiliki aturan-aturan yang jelas dan juga teratur.

Hal-hal yang tidak patut dilakukan dalam dunia ilmu pengetahuan

  • Tidak objektif dan tidak menerima fakta-fakta yang didapatkan dari hasil eksperimen yang dilakukan dengan cara yang betul.
  • Menipu dalam melaporkan data — membuat data palsu dan mengubah data.
  • Plagiat.
  • Tidak memberikan penghargaan (credit) kepada orang yang juga memberikan sumbangan ilmiah kepada penelitian yang dilakukan.

Setelah membaca tulisan ini, saya mengharapkan, terutama kepada orang-orang yang menganggap dirinya saintis dan ilmuwan, untuk kembali bertanya “Apakah kita memiliki budaya ilmiah?”

Profesor teladan yang rendah hati

Siapa dia Profesor teladan yang saya tulis pada judul di atas? Jawabnya akan anda baca pada akhir tulisan ini. Saya pernah berkata di depan profesor teladan ini, bahwa sudah menjadi prestasi yang luar biasa kepada saya jika saya dapat menerapkan hanya 30% saja dari sifat-sifat beliau sebagai ilmuwan dan pendidik.

Scientific integrity

Sifat utama yang sangat menonjol dari profesor yang saya anggap teladan ini adalah, beliau mempunyai integritas saintifik (scientific integrity) yang tinggi karena beliau melakukan penelitian dengan cara yang betul (good research practice). Disamping itu beliau juga adalah pendidik yang baik. Good research practice merupakan aspek yang sangat penting di universitas karena kehebatan dalam penelitian merupakan akar daripada kehebatan akademik, baik pada tingkat sarjana muda maupun tingkat master atau PhD.

Sang profesor ini selalu berusaha menularkan pengalaman dan ilmunya kepada semua mahasiswanya. Beliau betul-betul memberikan teladan bagaimana melakukan penelitian dan juga melakukan eksperimen di laboratorium dengan baik. Dari menulis catatan harian di buku laboratorium sampai kepada masalah etika yang perlu diperhatikan sebagai seorang calon ilmuwan. Beliau tidak segan-segan turun ke laboratorium untuk memperbaiki peralatan laboratorium, walaupun mempunyai kesibukan yang ‘luar biasa’ sebagai profesor. Beliau hampir-hampir mengetahui dari ‘A’ sampai ‘Z’ mengenai penelitian, dari mengoperasikan alat, memperbaikinya dan juga memberikan ide-ide baru dalam penelitian.

Salah satu sifat yang menjadi panutan adalah kerendahan hati sang profesor ini. Walaupun beliau telah memiliki hampir 200 publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal ternama, memiliki belasan patent yang telah dikomersialkan, dan juga menjadi editor dibeberapa jurnal ternama, tidak sedikitpun tersirat kesombongan atau ‘riya‘ diperlihatkan. Prestasi sang pofesor ini dihasilkan dari kerja keras dan dedikasi yang tinggi — hampir setiap hari pulang larut malam.

Penelitian yang baik harus diiringi dengan hasil penelitian yang bermutu tinggi dengan publikasi yang bermutu tinggi, dan akhirnya banyak dirujuk oleh peneliti yang lain. Inilah aspek yang sangat ditekankan beliau kepada mahasiswa-mahasiswa beliau.

Bagaimana dengan scientific integrity kita?

Dari judul di atas sengaja saya tulis ‘kita’, karena didalamnya termasuk ‘saya’. Tulisan ini juga memberikan pelajaran kepada saya bahwa sebenarnya kita belum mempunyai ‘scientific integrity‘ yang baik. Ini beberapa contoh yang menunjukkan bahwa kita (termasuk saya) tidak mempunyai ‘scientific integrity‘ yang baik.

Kita harus selalu memonitor dan mementingkan proses daripada hasil dalam proses penelitian. Tidaklah bermakna jika hasil yang diperolehi tersebut datang dari proses yang tidak betul. Saya banyak menyaksikan mahasiswa menipu dalam melaporkan hasil penelitian. Kenapa? karena mahasiswa ini takut kepada pembimbingnya yang selalu meminta hasil-hasil penelitian yang positif. Yang lebih parah, pembimbing ini juga tidak mempunyai pengetahuan dan kepakaran terhadap bidang tersebut.

Kita harus memberi teladan yang baik kepada mahasiswa kita, baik dari segi disiplin, kejujuran, keterbukaan dan menghargai orang lain.

Tidak menghargai jerih payah mahasiswa. Kadang kala kita mendapat mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik yang tinggi. Seringkali ide-ide dari penelitian diperolehi dari mahasiswa ini tidak dihargai, dan seakan-akan hasil penelitian tersebut adalah hasil jerih payah kita 100%. Kita merasa bahwa kitalah yang paling berhak kepada hasil hasil penelitian itu — padahal kita hanya berperan sebagai pembimbing secara formalitas, bukan membimbing dalam arti sebenarnya seperti yang ditunjukkan profesor teladan yang saya sebutkan di atas.

Perlu ditekankan bahwa ‘proses pendidikan’ di perguruan tinggi memerlukan proses pembimbingan dan latihan yang baik. Apalah jadinya jika sebagai pendidik kita hanya mementingkan diri sendiri — dan melupakan ‘proses pendidikan’ tersebut. Harus diingat bahwa keberhasilan seseorang sebagai pendidik sangat dipengaruhi oleh niat. Coba kita bayangkan jika niat seseorang dosen atau pensyarah adalah tidak untuk mendidik, tetapi untuk menjadi ketua jurusan, dekan atau rektor, bagaimana nasib perguruan tinggi kita?

Sang Profesor teladan

Siapa profesor teladan yang sebutkan di atas? Profesor tersebut adalah mentor saya selama saya postdoc di Hokkaido University dari tahun 1999-2002. Beliau banyak mengajar saya bagaimana melakukan penelitian yang baik. Beliau juga menjadi teladan bagi mahasiswanya — baik dari segi disiplin, bekerja secara berstruktur, mendidik dan juga management. Beliau adalah Profesor Bunsho Ohtani, profesor di Catalysis Research Center, Hokkaido University.

Pintar, Jujur dan Disukai Orang

Saya pernah membaca tulisan, kalau tidak salah, ditulis oleh peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengenai karakter orang yang duduk dipemerintahan di Indonesia. Peneliti ini mengatakan bahwa jarang orang yang duduk dipemerintahan yang memiliki ketiga-tiga karakter ini sekaligus; pintar, jujur (tidak korupsi) dan disenangi oleh para penguasa (dekat dengan pemerintah). Kebanyakan hanya memiliki satu atau dua dari ketiga karakter dan sifat yang baik-baik tersebut. Kalau dia pintar dan jujur, pasti tidak disenangi oleh penguasa. Kalau jujur dan disenangi oleh penguasa biasanya bodoh. Kalau dia pintar dan disenangi oleh para penguasa biasanya suka korupsi.

Sungguh susah memiliki ketiga-ketiga sifat yang baik-baik di atas. Hal yang mirip juga terjadi di lingkungan Universitas. Kriterianya agak sedikit berbeda; betul-betul mempunyai kemampuan akademik yang tinggi, jujur dan disukai oleh rekan sejawat. Kriteria yang pertama “betul-betul mempunyai kemampuan akademik yang tinggi” tersebut tidak didapatkan dari memperbudak dan mengeksploitasi mahasiswa (yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi). Kadangkala mahasiswa tersebut “lebih pandai” dari lecturer-nya — sampai-sampai membuat proposal untuk mendapatkan research grant, publikasi ilmiah dan membuat laporan akhir research-pun dibuat oleh sang mahasiswa. Sang lecturer-pun tidak tahu apa yang dibuat oleh mahasiswanya. Sungguh ironis. Mudah-mudahan banyak lecturer yang muncul dengan ketiga-tiga karakter dan sifat yang baik itu… (dan anggaplah andaian ini hanya prasangka buruk saya saja). Saya hanya ingin universitas ‘kita’ maju dan cemerlang….

Sifat-sifat manusia Indonesia

Mochtar Lubis menulis sebuah buku yang berjudul “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang kalau tidak salah ditulis tahun 70’an. Namun kalau ditelaah, setelah hampir 30 tahun, apakah sifat-sifat tersebut masih hinggap disebahagian besar masyarakat Indonesia?  Satu-satunya sifat yang positif dari orang Indonesia, menurut Mochtar Lubis adalah sifatnya yang ‘artistik’.

Bagaimanapun, walaupun banyak di antara kita (dan saya) yang kurang setuju dengan pendapat Muchtar Lubis ini, buku ini setidak-tidaknya menjadi ‘bahan’ bagi kita supaya tidak memiliki sifat-sifat (buruk) tersebut. Saya yakin masih banyak orang Indonesia yang bisa menjadi panutan — baik dari segi prestasi dan moral.

Ini sifat-sifat manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang saya salin dari http://www.ken.web.id/ciri-ciri-manusia-indonesia/:

1. Hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
 
2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya,putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.

3. Berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.

4. Masih percaya takhyul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.

5. Artistik. Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinyam warna-warninya.

6. Watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”. Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.

8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.

11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok. Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.

12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak nyang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

Nasib saintis (penipu)

Akhirnya Jan Hendrik Schön penerima “Otto-Klung-Weberbank Prize” dalam bidang fisika pada tahun 2001, Braunschweig Prize pada tahun 2001 dan Outstanding Young Investigator Award of the Materials Research Society pada tahun 2002 bernasib malang karena telah terbukti memalsukan hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal terkenal Science dan Nature.  Kisah  ini penting diketahui oleh para dosen (pensyarah) di Universitas, supaya memberi kesadaran bahwa kejujuran dan etika akademik harus dijunjung tinggi.

Ini yang dikatakan oleh Professor Paul McEeun dari Cornell University  mengenai Jan Hendrik Schön: “The amazing thing about Hendrik was that everything he touched seemed to work.