Prestasi ilmiah yang sebenarnya

Ini yang pernah dikatakan oleh Einstein:

“…If the relativity theory will be proven true, the Germans will say I am a German, the Swiss I am a Swiss and the French that I am a great man. If not, the Germans will call me Swiss, the Swiss will call me German, and the French will say I am a Jew….” Albert Einstein,  long before the nazis, long before Hitler rise to power.

Einstein boleh berkata begitu karena dia punya prestasi. Prestasi yang dapat meningkatkan martabat — tidak hanya martabat diri, tetapi juga martabat negara dimana dia tinggal.  Prestasi yang diraih oleh Einstein bukanlah prestasi yang ‘semu’ karena prestasi beliau dalam bidang ilmu pengetahuan tidak hanya berguna bagi ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi juga kepada kehidupan orang banyak yang telah diterjemahkan kepada teknologi yang berguna.  Jelas, hasil kerja beliau telah banyak menjadi bahan rujukan dan inspirasi kepada orang lain. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang fisika dan kimia yang dicapai pada saat ini pasti merujuk kepada hasil pekerjaan beliau.  Inilah prestasi ilmiah yang sebenarnya.

Walaupun banyak saintis dan peneliti yang telah mempublikasikan hasil penelitian di jurnal-jurnal ternama, tidaklah akan menjadi prestasi ilmiah jika hasil penelitian tersebut tidak pernah dirujuk dan dikembangkan oleh orang lain.  Apalah artinya jika hasil penelitian tersebut hanya digunakan untuk pamer(an), sedangkan hasil penelitian tersebut bermutu rendah (menurut pandangan rekan sejawat (peer review), yang juga pakar dalam bidang berkenaan), sehingga tidak seorangpun yang meliriknya.  Ini adalah contoh prestasi ilmiah yang ‘semu’ dan tidak mencerminkan prestasi ilmiah yang sebenarnya.

The 11th World Conference on Titanium [5 June 2007]

I give an oral presentation at The 11th World Conference on Titanium (3-7 June 2007) at Kyoto International Conference Hall in Kyoto, Japan. The conference is organized by Japan Institute of Metal. Many leading scientists all over the world in the field of titanium metal attend this conference.

dsc_3027

Sang Profesor

Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.  Itulah kesan yang saya perolehi ketika berjumpa dengan seorang profesor di Osaka University. Beliau juga sangat menghargai saintis-saintis muda, dan memberi peluang kepada mereka untuk maju. Ketika saya berkunjung ke laboratorium beliau, yang dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap, selama satu minggu, saya juga mendapatkan kesan bahwa beliau sangat disegani bukan hanya oleh mahasiswa beliau, tetapi juga oleh kawan-kawan beliau.  Prestasi dan prestise adalah dua perkataan yang pernah saya sebutkan sebelum ini dalam blog ini.  Kadangkala kita terlalu gerah untuk mengejar prestise dan melupakan prestasi.  Dengan memanfaatkan “kelemahan” sistem yang ada, banyak diantara kita yang dengan mudah mendapatkan prestise yaitu gelar akademik yang tidak mencerminkan adanya prestasi akademik yang baik.  Pada zaman ini, dengan teknologi komunikasi yang ada, prestasi akademik seseorang atau universitas dengan sangat mudah dinilai oleh orang lain.  Adalah sangat memalukan dan akan merendahkan prestise sebuah universitas jika gelar akademik diberikan kepada seseorang yang tidak mempunyai prestasi akademik yang baik. Menurut pendapat saya, profesor adalah sebuah ‘institusi’, karena dari sinilah ilmu pengetahuan berkembang. Bagaimana ilmu pengetahuan akan bisa berkembang jika ‘institusi’ ini tidak memiliki prestasi akademik yang baik, bahkan menghasilkan ‘produk’ ilmiah seperti  publikasi ilmiahpun tidak mampu.  

Hal lain yang saya banyak belajar dengan profesor di Jepang adalah; mereka sangat mementingkan proses dibandingkan hasil.  Mereka sangat memperhatikan kualitas dari proses tersebut.  Hasil yang baik akan akan dihasilkan oleh proses yang baik.  Dengan gelar profesor yang didapatkan dengan prestasi akademik yang baik, proses pembelajaran dari pembimbing kepada mahasiswa akan berlangsung dengan baik.  Bagaimana proses pembelajaran ini dapat berlangsung jika sang Profesor-pun tidak mengerti dengan penelitian yang dibuat oleh mahasiswanya.  Bahkan, mahasiswa tersebutlah yang membuat proposal penelitian (dengan idenya sendiri) sampai mempublikasikan hasil penelitian tersebut.  Sang pembimbing dengan kekuasaannya telah memaksa untuk meletakkan namanya sebagai penulis utama dari publikasi tersebut, supaya cita-citanya untuk meraih prestise akan lebih mudah dicapai. Yang lebih parah lagi, dia akan marah jika mahasiswanya dengan tidak sengaja  terlupa memanggilnya dengan gelar yang disandangnya tersebut.   

Universitas yang hebat adalah universitas yang memiliki profesor dengan prestasi akademik yang baik … Itulah indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas.

Lecture at Osaka University [11 June 2007]

Prof. Matsumura (Research Center for Solar Energy Chemistry, Osaka University) invited me to give a lecture at the Graduate School of Engineering Science, Osaka University. The title of my presentation is “The design and synthesis of a heterogeneous catalytic system for oxidation and acid reactions”.

dsc_3166

Belajar bagaimana menghargai pekerjaan dan orang lain

Sekarang saya berada di Osaka University, mengunjungi Research Center for Solar Eergy Chemistry. Saya dijemput oleh Ng Yun Hau, bekas mahasiswa MSc saya di Universiti Teknologi Malaysia yang sekarang adalah mahasiswa PhD di Osaka University. Hari ini adalah hari ke 6 saya berada di Jepang setelah satu minggu menghadiri The 11th World Conference on Titanium di Kyoto.  Dengan jelas saya melihat kemajuan akademik yang telah dicapai oleh mereka yang berasal dari negara-negara maju.  Sudah banyak analisis yang telah dikemukakan oleh para penganalisis kenapa mereka maju, kenapa kita tidak. Apa yang saya lihat dengan jelas adalah bahwa mereka “paham bagaimana menghargai pekerjaan” dan  “paham bagaimana menghargai orang yang menghasilkan pekerjaan tersebut“.  Baru saja saya diajak berkeliling untuk melihat fasilitas laboratorium Center for Solar Energy Chemistry, Osaka University. Saya tidak begitu terkejut dengan fasilitas yang dipunyai oleh mereka, karena fasilitas riset yang sama juga dipunyai oleh universitas tempat saya bekerja di Malaysia.  Walaupun prestasi akademik dan riset saya tidaklah dapat dibanggakan jika dibandingkan dengan prestasi peneliti di jepang, saya begitu tersanjung karena diundang untuk memberikan ceramah di depan profesor-profesor dalam bidang katalisis di Department of Chemistry, Graduate School of Engineering Science, Osaka University senin depan (11/06/2007). Ini adalah pengalaman yang berharga dan merefleksikan bagaimana mereka menghargai hasil pekerjaan orang lain. 

Kalau kita ingin maju, kita harus terlebih dahulu menghargai pekerjaan yang kita sedang hadapi, dan juga hargailah orang lain sepadan dengan apa yang telah dihasilkannya“.