Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi Di Indonesia

[Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Waspada pada bulan Mei 2004].

Melihat perkembangan Indonesia saat ini, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, sosial dan politik sangatlah memprihatinkan. Kekurangan dan ketinggalan negara kita dibandingkan dengan negara lain dari hampir disemua aspek yang disebutkan di atas dapat dirasakan, terutama oleh intelektual Indonesia yang tinggal di luar negeri, yang relatif dapat melihat dengan lebih jelas karena berada di “luar orbit”. Indikator-indikator yang terukur, seperti ekonomi, telah menunjukkan hal ini, sedangkan indikator-indikator yang susah diukur dapat kita bandingkan selama kita berada di Indonesia dan di luar negeri. Banyak pendapat yang menyoroti penyebab hal ini. Salah satunya adalah rendahnya mutu pendidikan. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia penelitian dalam bidang sains, saya dapat merasakan bahwa dalam ilmu pengetahuan terdapat aspek-aspek etika yang kalau diterapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif. Saya berpikir bahwa dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa dapat membantu membentuk kepribadian yang baik. Apa yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek ‘pendidikan’ (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung hanya memberikan knowledge saja kepada para mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai ‘pengajaran’. Aspek ‘pendidikan’ yang saya maksudkan adalah termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Hal ini penting karena saya berpendapat bahwa institusi pendidikan tinggi adalah benteng terakhir yang seharusnya bertahan dalam menghadapi krisis moral di Indonesia.

Etika sains, riset dan pendidikan

Sains, ilmuwan, riset dan pendidikan merupakan hal yang sangat berkaitan erat. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa riset dan mengajar merupakan hal yang bersifat perkalian bukan pertambahan, salah satu sifat utama yang melekat kepada seseorang yang digelari ilmuwan Ini berarti bahwa seseorang akan nol sebagai ilmuwan jika tidak melakukan riset. Dan juga berarti akan nol sebagai ilmuwan jika tidak mengajar.

Berdasarkan hal ini, tulisan ini mencoba memberikan gambaran pentingnya etika sains dan manfaatnya dalam pendidikan.

Sebelum kita masuk ke dalam permasalahan: apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, betanggung jawab dan sportif? Ada baiknya kita mengetahui apa itu sains dan etika. Cara pandang terhadap sains bisa bermacam-macam tergantung bagaimana kita mendefinisikan sains tersebut. Tapi ada baiknya, sesuai dengan tujuan tulisan ini, definisi dari sains diambil dari Oxford English Dictionary: “A branch of study which is concerned with a connected body of demonstrated truths, orwith observed facts systematically classified and more or less colligated by being brought under general laws, and which includes trustworthy methods for the discovery of new truth within its own domain“. Apa itu etika? Webster’s New Collegiate Dictionary mendefinikannya sebagai berikut: “1 …the discipline dealing with what is good and bad and with moral duty and obligation 2 a: a set of moral principles and values b: a theory or system of moralvalues c: the principles of conduct governing an individual or a group.

Dari definisi-definisi di atas kelihatan dengan jelas bahwa sains adalah alat untuk mencari kebenaran. Dan dapat disadari untuk mencari kebenaran kita perlu strategi yang beretika. Strategi disini adalah metode ilmiah. Bagaimanapun banyak terjadi pelanggaran etika dalam penelitian saintifik, yang disebut sebagai penipuan saintifik (scientific fraud).

Penipuan saintifik

Penipuan saintifik (scientific fraud) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja,. Bagaimanapun, definisi penipuan saintifik tidak selalu jelas. Salah satu aspek dari penipuan saintifik adalah memanipulasi dan mengubah data. Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage menerangkan teknik manipulasi data. Di dalamnya termasuk trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan). Sains yang ideal adalah bahwa para ilmuwan seharusnya objektif dan melaporkan semua hasil pengamatan secara lengkap dan jujur. Bagaimanapun, ini tidak selalu ditemui dalam laporan-laporan ilmiah.

Sebagai ilustrasi, tiga kasus di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana etika sains dijunjung tinggi dalam dunia ilmiah:

Kasus pertama

Faktor yang merumitkan pendeteksian penipuan saintifik adalah karena begitu banyaknya publikasi-publikasi yang diterbitkan setiap tahun di dunia. Lebih daripada 40,000 jurnal dan ratusan ribu artikel ilmiah setiap tahun telah diterbitkan Sangatlah susah untuk meneliti apakah sebuah artikel mengandung penipuan atau tidak, walaupun paper tersebut telah dipublikasikan melalui penjurian (reviewing process). Salah satu kasus yang terkuak kepermukaan adalah kasus Elias A. K. Alsabti pada akhir 1970 dan awal 1980. Alsabti adalah seorang warganegara Irak, memperoleh sarjana kedokteran di Irak dan datang ke Amerika Serikat pada 1977 untuk bekerja dalam bidang immunologi di Temple University di Philadelphia, dan dilanjutkan di beberapa buah institut. Alsabti didapati terlibat dalam penipuan saintifik. Dalam sebuah kasus penipuan, rekan kerjanya menemukan bahwa dia telah mengubah data dalam sebuah publikasi ilmiah. Dalam beberapa contoh yang lain, Alsabti melakukan perbuatan plagiat, mengambil data dari jurnal, dan mempublikasikannya lagi dalam jurnal yang lain

Dalam beberapa kasus yang lain, plagiat yang dilakukan oleh Alsabti dengan mudah dapat ditemukan karena kecerobohan dia dalam menghilangkan tanda-tanda bahwa data tersebut telah diambil dari artikel orang lain.  Sebelum kasus ini ditemukan Alsabti tealah memperoleh posisi di enam buah institut yang berbeda dan mendapatkan izin untuk membuka praktek kedokteran di dua negara bagian di Amerika Serikat. Kasus ini telah dipublikasikan di Nature, the British Medical Journal dan disebuah buku yang berjudul Stealing Into Print oleh Marcel C. Lafollette. Kasus ini ditutup setelah Alsabti ditemukan tewas kecelakaan mobil pada tahun 1991.

Kasus kedua

Kasus serius lain ditemukan pada tahun 1980an, dimana seorang kardiolog muda bernama John Darsee, yang bekerja di salah satu lembaga riset bergengsi di dunia yaitu Harvard Medical School di Boston, Massachusetts. Dia dikenal sebagai ilmuwan yang berbakat karena telah mempublikasikan hampir 100 artikel dan abstrak dalam masa dua tahun di Harvard.

Pada tahun 1981, rekan-rekan kerja Darsee mengetahui dan melaporkan kepada kepala laboratorium bahwa dia telah membuat data palsu dalam eksperimen. Mereka juga melaporkan bahwa Darsee juga telah memalsukan data di beberapa artikel yang telah dipublikasikan. Ketika diselidiki, Darsee mengaku telah melakukan hal tersebut. Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Darsee telah memalsukan data bukan saja di Harvard, tetapi di posisi sebelumnya di Emory University di Georgia dan bahkan ketika sebagai mahasiswa sarjana di Notre Dame University di Indiana. Darsee dikeluarkan dari Harvard dan ditutup kemungkinannya untuk menerima dana riset dari pemerintah. Artikelnya di jurnal yang memuat data palsu tersebut juga telah ditarik kembali.

Kasus ketiga

Kasus ketiga terjadi di Indonesia. Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2000 akhirnya membatalkan gelar doktor pada Ipong S. Azhar. Disertasi Ipong ini mulai menjadi masalah setelah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Radikalisme Petani Masa Orde Baru: Kasus Sengketa Tanah Jenggawah pada pertengahan 1999. Mochammad Nurhasim, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkejut setelah membaca bab demi bab buku itu, karena isinya sama dengan skripsinya. Ia lalu menulis surat ke Senat UGM, sekaligus mengirim salinan skripsinya. Ia juga membuat surat terbuka ke berbagai media massa. Intinya, ia menuduh Ipong melakukan plagiat dan mendesak supaya gelar doktor kolumnis itu dicabut. Dan, keputusan final telah dijatuhkan pada 25 Maret 2000 dalam Forum Rapat Senat UGM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, Rektor UGM, dan dihadiri 102 anggota senat. Gelar doktornya dibatalkan. Keputusan Senat UGM tentu didasarkan pada temuan Tim Peneliti kasus Ipong. Hampir semua data disertasi Ipong menggunakan data orang lain. Selain itu, data yang diserahkan saat ujian meraih gelar doktor tidak sama dengan disertasi yang dikumpulkan ke bagian arsip dan perpustakaan UGM. Disertasi yang diserahkan kepada penguji tidak menyebutkan sumbernya. Sementara, salinan disertasi yang diserahkan ke bagian arsip perpustakaan sudah mencantumkan sumber referensinya, yakni skripsi Mochammad Nurhasim.

Kesalahan lain yang berasal dari kecerobohan, kurang baiknya merancang eksperimen atau tidak tepat dalam menyalin catatan laboratorium bukan merupakan penipuan saintifik (scientific fraud) walaupun merupakan hal yang tidak dapat diterima dalam sains. Salah satu contoh kasus terbaru dalam hal ini telah dilaporkan di Chemical and Engineering News pada 6 Agustus 2001 dimana ilmuwan-ilmuwan di Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) telah menarik kembali artikel mereka yang dipublikasikan di Physical Review Letters. Di jurnal bergengsi ini, mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan unsur baru dengan nomor atom 118 dan 116 dari hasil reaksi inti antara 208Pb dengan ion 86Kr yang berenergi tinggi. Penarikan artikel ini didasarkan kepada hasil eksperimen yang tidak bisa diulang di laboratorium di Jerman dan Jepang. Penarikan ini sangat beralasan karena hasil riset ini akan memberikan impak yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa hukuman terhadap penipuan saintifik itu sangat jelas. Contoh kasus di UGM memberikan kesadaran kepada kita bahwa diperlukan suatu instrumen dan peraturan yang jelas untuk memperkecil kemungkinan penipuan saintifik. Berbeda dengan perguruan tinggi di negara maju, instrumen dan peraturannya mengenai penipuan saintifik di universitas di Indonesia ini tidak jelas dan belum diatur. Di samping itu, di negara maju, etika sains dimasukkan dalam kurikukum, untuk memberikan kesadaran dan melatih mahasiswa bahwa etika sains mutlak diperlukan di dalam riset. Sebagai gambaran umum, di dalam perkuliahan etika sains disamping diterangkan pentingnya etika sains juga diajarkan bagaimana menulis, melaporkan dan menganalisis data percobaan secara betul. Di Woodrow Wilson Biology Institute, mata kuliah ini diajarkan dalam kurikulum ilmu-ilmu biologi yang dianggap rawan terhadap penipuan. Hal ini juga disampaikan melalui tugas laboratorium. Sebagai gambaran bagaimana etika sains diajarkan, di bawah ini diberikan contoh kuliah etika sains di Woodrow Wilson Biology Institute, di mana sasaran dari kuliah tersebut adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk membedakan antara kesalahan biasa dan penipuan saintifik. Menerangkan kepada mahasiswa konsekwensi dari penipuan saintifik. Memahami sifat atur-diri (self-regulating) dari riset. Di dalam perkuliahan itu diajarkan sejarah penipuan saintifik dan mahasiswa dilibatkan dalam diskusi mengenai implikasi dari penipuan saintifik. Juga diajarkan cara menganalisa rancangan eksperimen dan data untuk mendeteksi kesalahan dan penipuan saintifik. Dalam perkuliahan juga disimulasikan situasi dilema etika dimana terjadi konflik antara kejujuran dengan keuntungan pribadi. Praktikum diberikan dengan menekankan pentingnya kontrol dalam perancangan eksperimen. Sebagai contoh, dengan menempatkan mahasiswa dalam posisi melaporkan kesimpulan yang salah karena perancangan eksperimen yang salah.

Dari kasus dan penjelasan di atas, kita dapat mengatakan, jika etika sains secara betul diajarkan dan diterapkan, maka kita dapat menjawab pertanyaan: Apakah aspek etika sains dapat membentuk pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab dan sportif?

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam penipuan saintifik, secara umum, ada tiga hal yang memotivasi orang untuk melakukan penipuan saintifik: Pertama adalah tekanan karir, dimana untuk melancarkan karir, seseorang terpaksa untuk melakukan penipuan. Tekanan ini dapat terlihat bagi para mahasiswa program doktor di Jepang yang rata-rata harus mempunyai publikasi di jurnal dalam bidangnya untuk memperoleh gelar doktor. Kedua, mengetahui atau berusaha menjawab pertanyaan dari riset tanpa susah payah melakukan eksperimen yang memakan waktu dan tenaga di laboratorium. Ketiga, bekerja pada bidang dimana hasil eksperimen tidak akan selalu sama jika diulang (reproducible). Hal ini dapat menjelaskan mengapa penipuan saintifik banyak terjadi pada bidang biologi dan biomedik, karena sulit mendapatkan data-data yang betul-betul bisa diulang, karena tergantung kepada banyak faktor yang susah dikontrol.

Antisipasi untuk Indonesia

Melihat kepada kemajuan zaman, mau tidak mau bangsa Indonesia harus menguasai ilmu dan teknologi. Hal ini tidak hanya dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kerangka etika (dalam arti yang luas), walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan banyak berpengaruh dengan banyaknya kasus-kasus penipuan saintifik. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai daya untuk memperbaiki dirinya sendiri (self correction). Hal ini sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang berkembang berdasarkan pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya. Bagaimanapun, mentalitas yang jujur mutlak diperlukan sebagai landasan untuk mencapai kemajuan. Pengajaran etika sains kepada para mahasiswa sarjana, magister dan doktor diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa bahwa para calon sarjana, calon doktor dan calon professor harus menjunjung tinggi kejujuran. Setidaknya hal ini dapat menjadi sumbangan kecil untuk perbaikan masyarakat kita, yang sedang dihinggapi penyakit korupsi, plagiat, membeli gelar, menyontek dan lain sebagainya. Inilah tugas berat para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang menyadari pentingnya etika sains dalam pendidikan sains dan riset di Indonesia.

Voodoo Science

Judul di atas adalah topik yang dijelaskan oleh Robert L. Park dalam bukunya yang berjudul “Voodoo Science: The Road from Foolishness to Fraud” yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2000 yang tebalnya 230 halaman. Buku ini menarik karena memberikan gambaran kepada masyarakat umum, golongan yang tidak bekerja dalam bidang sains dan juga bagi mereka yang tidak mengerti bagaimana proses pengembangan sains itu berlaku, terhadap bahaya voodoo science

Apa yang dimaksudkan dengan voodoo science? Robert L. Park menulis dalam bukunya bahwa dalam semua aktivitas kehidupan, penemuan dalam bidang sains yang telah dibuat oleh manusia mungkin akan berakhir dengan kegagalan disebabkan oleh kesalahan yang dibuat dengan cara yang tidak sengaja. Namun dalam voodoo science kesalahan yang tidak disengajakan tersebut mungkin akan berubah menjadi menjadi penipuan saintifik. Park mengatakan bahwa voodoo science mencakupi apa yang disebut sebagai pathological science, junk science, pseudo-science, dan fraudulent science.

Dalam voodoo science, penemuan-penemuan ilmiah dalam bidang sains biasanya tidak dipublikasikan melalui proses yang normal; yaitu melalui penilaian saintifik oleh pakar dalam bidang berkenaan (independent scientific review). Ini adalah karakteristik utama dari voodoo science. Dengan kekuatan media dalam mempublikasikan hasil penelitian tersebut, biasanya penemuan tersebut akan mendapatkan perhatian dari orang-orang yang tidak mengerti mengenai sains, termasuk orang-orang politik. Dengan kekuatan media, saintis yang “katanya” telah menemukan penemuan luar biasa tersebut juga dapat  berubah menjadi selebriti.  Dengan statusnya yang menjadi selebriti dan menjadi soroton orang ramai, secara psikologis, saintis tersebut mau tidak mau, akibat tekanan publik,  terpaksa berusaha untuk mempertahan kesahihan penelitiannya dengan cara apapun, dan akibatnya mungkin akan terjerumus atau tergelincir kepada voodoo science.

Buku ini mengingatkan supaya para saintis, akademisi dan juga petinggi-petinggi di universitas supaya tidak terjerumus kepada voodoo science. Semua penemuan-penemuan ilmiah sepatutnyalah terlebih dahulu dipublikasikan melalui cara yang benar menurut kaedah ilmiah yang baku yaitu melalui independent scientific review, bukan melalui publikasi di media masa.

Statistik publikasi

Ini adalah statistik full download artikel ilmiah saya yang telah dipublikasikan diberbagai jurnal (14/07/2007). Full download from http://works.bepress.com/hadi_nur

Amphiphilic NaY zeolite particles loaded with niobic acid: materials with applications for catalysis in immiscible liquid-liquid system

03/24/07

14

Bimodal pore size mesoporous MCM-48 materials prepared by post-synthesis alumination

03/24/07

57

Biphasic epoxidation of 1-octene with H2O2 catalyzed by amphiphilic fluorinated Ti-loaded zirconia

03/19/07

23

Characterization of humic acid from humification of oil palm empty fruit bunch fibre using Trichoderma viride

03/24/07

116

Deactivation modes and reactions over HZSM-5, AlPO4-5 and MnAPSO-5 in conversion of cyclohexanol

03/25/07

2

Dehydration and dehydrogenation of cyclohexanol over AlPO4-5 based molecular sieves

03/24/07

5

Development of membrane reactor for epoxidation of propylene to propylene oxide in a single step

03/24/07

49

Direct Observation of Bimodal Amphiphilic Surface Structures of Zeolite Particles for a Novel Liquid-Liquid Phase Boundary Catalysis

03/24/07

12

Direct Synthesis of NaA Zeolite from Rice Husk and Carbonaceous Rice Husk Ash

03/25/07

56

Effect of Loaded Alkali Metals on The Structural, Basicity and Catalytic Activity of Zeolite Beta

03/24/07

64

Effect of titanium active site location on activity of phase boundary catalyst particle for alkene epoxidation with aqueous hydrogen peroxide

03/24/07

10

Enhancement of catalytic activity of Titanosilicalite-1 – sulfated zirconia combination towards epoxidation of 1-octene with aqueous hydrogen peroxide

03/24/07

7

Fe(III)-salen encapsulated Al-MCM-41 as a catalyst in the polymerisation of bisphenol-A

03/23/07

25

Generation of Brönsted acidity in AlMCM-41 by sulphation for enhanced liquid phase tert-butylation of phenol

03/24/07

32

Heterogenous Chemocatalysis: Catalysis by Chemical Design

03/21/07

32

Hydrophobic fluorinated TiO2–ZrO2 as catalyst in epoxidation of 1-octene with aqueous hydrogen peroxide

03/20/07

12

Iron-porphyrin encapsulated in poly(methacrylic acid) and mesoporous Al-MCM-41 as catalysts in the oxidation of benzene to phenol

03/21/07

26

Modification of titanium surface species of titania by attachment of silica nanoparticles

03/20/07

50

On the location of different titanium sites in Ti-OMS-2 and their catalytic role in oxidation of styrene

04/03/07

23

Phase-Boundary Catalysis of Alkene Epoxidation with Aqueous Hydrogen Peroxide Using Amphiphilic Zeolite Particles Loaded with Titanium Oxide

03/24/07

28

Phase-boundary catalysts for acid-catalyzed reactions: the role of bimodal amphiphilic structure and location of active sites

03/24/07

1

Preparation and characterization of bifunctional oxidative and acidic catalysts Nb2O5/TS-1 for synthesis of diols

03/21/07

16

Probing the active sites of aluminated mesoporous molecular sieve MCM-41 by secondary synthesis in the conversion of cyclohexanol

03/24/07

7

Quantitative measurement of a mixture of mesophases cubic MCM-48 and hexagonal MCM-41 by 13C CP/MAS NMR

03/23/07

26

Selective dibenzoylation of biphenyl to 4,4-dibenzoylbiphenyl over H-Al-MCM-41

03/24/07

18

Simultaneous adsorption of a mixture of paraquat and dye by NaY zeolite covered with alkylsilane

03/24/07

29

Stannic oxide-titanium dioxide coupled semiconductor photocatalyst loaded with polyaniline for enhanced photocatalytic oxidation of 1-octene

06/06/07

5

Structural and Superacidity Study of Bifunctional Catalyst, Sulfated-Titanium/TS-1

03/24/07

28

Structural distortion in MeAPO-5 molecular sieves: a 31P MAS-NMR study

03/25/07

1

Sulfation: a simple method to enhance the catalytic activity of TS-1 in epoxidation of 1-octene with aqueous hydrogen peroxide

03/24/07

7

Sulphated AlMCM-41: Mesoporous solid Brønsted acid catalyst for dibenzoylation of biphenyl

03/20/07

14

Synthesis of CdS nanoparticles in HDTMAB/2-Propanol/Water/n-Decane Miniemulsion system

03/25/07

8

The Basicity and acidity of beta zeolites after ion-exchange with alkali metal cations: a physicochemical characterization

03/25/07

8

The ionic size of metal atoms in correlation with acidity by the conversion of cyclohexanol over MeAPO-5

03/24/07

7

Titanium Doped Octahedral Manganese Oxide Hybrid Catalyst in the Oxidation of Cyclohexene

03/26/07

15

TS-1 loaded with sulfated zirconia as bifunctional oxidative and acidic catalyst for transformation of 1-octene to 1,2-octanediol

03/21/07

13

Kegagalan Abraham Lincoln dalam politik

A Leader Always Fails Upwards!  —  Abraham Lincoln really was born in a log cabin. The fact that he went on to become President — and to lead the country through the most difficult period of its history — is truly remarkable.

Abraham Lincoln — (yang awalnya banyak gagal dalam politik akhirnya berhasil menjadi presiden Amerika) — banyak menjadi inspirasi, contoh dan juga pendorong bagi orang-orang yang menganggap dirinya gagal mencapai sesuatu yang diinginkannya — seperti jabatan, pangkat dan kekayaan.   Kegagalan dan keberhasilan dalam politik memang susah untuk diduga karena banyaknya parameter-parameter yang tidak dapat diperkirakan, seperti opini publik, propaganda, politik uang dan lain sebagainya. 

Kita mungkin menduga hal ini tidak akan berlaku dalam lingkungan akademik, lingkungan ilmiah yang biasanya mempunyai standar yang jelas dalam penilaian prestasi (akademik). Namun sayangnya, standar yang tadinya ‘sangat jelas’ menjadi tidak jelas karena lingkungan akademik telah ‘dipolitikkan’ sehingga terjadilah degradasi keilmuan. Banyak energi yang terbuang karena masalah ‘politik’ dibandingkan dengan memikirkan bagaimana mencapai ‘prestasi ilmiah’ yang membanggakan.  Sangat disayangkan …..

Prestasi ilmiah yang sebenarnya

Ini yang pernah dikatakan oleh Einstein:

“…If the relativity theory will be proven true, the Germans will say I am a German, the Swiss I am a Swiss and the French that I am a great man. If not, the Germans will call me Swiss, the Swiss will call me German, and the French will say I am a Jew….” Albert Einstein,  long before the nazis, long before Hitler rise to power.

Einstein boleh berkata begitu karena dia punya prestasi. Prestasi yang dapat meningkatkan martabat — tidak hanya martabat diri, tetapi juga martabat negara dimana dia tinggal.  Prestasi yang diraih oleh Einstein bukanlah prestasi yang ‘semu’ karena prestasi beliau dalam bidang ilmu pengetahuan tidak hanya berguna bagi ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi juga kepada kehidupan orang banyak yang telah diterjemahkan kepada teknologi yang berguna.  Jelas, hasil kerja beliau telah banyak menjadi bahan rujukan dan inspirasi kepada orang lain. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang fisika dan kimia yang dicapai pada saat ini pasti merujuk kepada hasil pekerjaan beliau.  Inilah prestasi ilmiah yang sebenarnya.

Walaupun banyak saintis dan peneliti yang telah mempublikasikan hasil penelitian di jurnal-jurnal ternama, tidaklah akan menjadi prestasi ilmiah jika hasil penelitian tersebut tidak pernah dirujuk dan dikembangkan oleh orang lain.  Apalah artinya jika hasil penelitian tersebut hanya digunakan untuk pamer(an), sedangkan hasil penelitian tersebut bermutu rendah (menurut pandangan rekan sejawat (peer review), yang juga pakar dalam bidang berkenaan), sehingga tidak seorangpun yang meliriknya.  Ini adalah contoh prestasi ilmiah yang ‘semu’ dan tidak mencerminkan prestasi ilmiah yang sebenarnya.

Sang Profesor

Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.  Itulah kesan yang saya perolehi ketika berjumpa dengan seorang profesor di Osaka University. Beliau juga sangat menghargai saintis-saintis muda, dan memberi peluang kepada mereka untuk maju. Ketika saya berkunjung ke laboratorium beliau, yang dilengkapi dengan fasilitas yang sangat lengkap, selama satu minggu, saya juga mendapatkan kesan bahwa beliau sangat disegani bukan hanya oleh mahasiswa beliau, tetapi juga oleh kawan-kawan beliau.  Prestasi dan prestise adalah dua perkataan yang pernah saya sebutkan sebelum ini dalam blog ini.  Kadangkala kita terlalu gerah untuk mengejar prestise dan melupakan prestasi.  Dengan memanfaatkan “kelemahan” sistem yang ada, banyak diantara kita yang dengan mudah mendapatkan prestise yaitu gelar akademik yang tidak mencerminkan adanya prestasi akademik yang baik.  Pada zaman ini, dengan teknologi komunikasi yang ada, prestasi akademik seseorang atau universitas dengan sangat mudah dinilai oleh orang lain.  Adalah sangat memalukan dan akan merendahkan prestise sebuah universitas jika gelar akademik diberikan kepada seseorang yang tidak mempunyai prestasi akademik yang baik. Menurut pendapat saya, profesor adalah sebuah ‘institusi’, karena dari sinilah ilmu pengetahuan berkembang. Bagaimana ilmu pengetahuan akan bisa berkembang jika ‘institusi’ ini tidak memiliki prestasi akademik yang baik, bahkan menghasilkan ‘produk’ ilmiah seperti  publikasi ilmiahpun tidak mampu.  

Hal lain yang saya banyak belajar dengan profesor di Jepang adalah; mereka sangat mementingkan proses dibandingkan hasil.  Mereka sangat memperhatikan kualitas dari proses tersebut.  Hasil yang baik akan akan dihasilkan oleh proses yang baik.  Dengan gelar profesor yang didapatkan dengan prestasi akademik yang baik, proses pembelajaran dari pembimbing kepada mahasiswa akan berlangsung dengan baik.  Bagaimana proses pembelajaran ini dapat berlangsung jika sang Profesor-pun tidak mengerti dengan penelitian yang dibuat oleh mahasiswanya.  Bahkan, mahasiswa tersebutlah yang membuat proposal penelitian (dengan idenya sendiri) sampai mempublikasikan hasil penelitian tersebut.  Sang pembimbing dengan kekuasaannya telah memaksa untuk meletakkan namanya sebagai penulis utama dari publikasi tersebut, supaya cita-citanya untuk meraih prestise akan lebih mudah dicapai. Yang lebih parah lagi, dia akan marah jika mahasiswanya dengan tidak sengaja  terlupa memanggilnya dengan gelar yang disandangnya tersebut.   

Universitas yang hebat adalah universitas yang memiliki profesor dengan prestasi akademik yang baik … Itulah indikator yang paling mudah untuk menilai sebuah universitas.