Harga minyak dan gaya hidup hemat

Apa hubungan antara harga minyak dengan gaya hidup? Pada pendapat saya terdapat hubungan yang sangat erat, apalagi dengan harga minyak yang melambung tinggi seperti sekarang. Saya menjadi malu ketika seorang profesor dari Jerman yang berkunjung ke universitas tempat saya bekerja, mengatakan kepada saya bahwa gaya hidup yang diamalkan disini adalah gaya hidup Amerika (American style) yang boros, sedangkan ekonominya tidak seperti ekonomi Amerika yang kuat. “Dengan harga minyak yang mahal saya akan bersepeda ke kampus”, katanya. Itulah yang dilakukannya dari dulu sampai sekarang di Jerman. Dengan kata lain sang profesor ini hidup berhemat. Saya juga mempunyai kenalan seorang profesor dari Jepang yang juga mengamalkan hidup hemat. Ketika saya berkunjung ke Jepang tahun lalu, saya menaiki mobil “kecil” beliau yang hanya berharga sekitar 1 juta Yen, atau hanya sekitar 30 ribu Ringgit Malaysia. Saya yakin dengan gaji profesor di Jepang, beliau pasti mampu membeli mobil mewah. Dengan contoh yang saya ceritakan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa gaya hidup kita adalah boros dan tidak hemat, kadang-kadang “lebih besar pasak daripada tiang”. Dia hanya geleng-geleng kepala melihat gaya hidup disini, ketika beliau berkunjung kesini — walaupun dengan gaji mereka yang relatif jauh lebih besar dengan gaji orang-orang disini, mereka tetap hidup hemat. Dengan kata lain, walaupun kaya mereka tetap hemat. Banyak contoh gaya hidup boros disekeliling saya yang tidak dapat saya ceritakan disini, termasuk oleh golongan yang boleh dikatakan intelektual karena memiliki pendidikan yang tinggi.

Itulah perbedaan antara cara hidup orang Jerman dan Jepang dengan kita. Mereka hidup hemat. Oleh karena inilah mereka dapat membangun ekonomi mereka seperti sekarang ini. Rumus ekonomi yang sederhana mengatakan bahwa modal yang terkumpul merupakan selisih dari Gross National Product (GNP) dengan konsumsi dan ditambah dengan selisih antara import dan eksport. Kita dapat membayangkan apa jadinya jika konsumsi lebih tinggi dibandingkan dengan GNP. Dapat dikatakan bahwa dengan sifat hemat tersebut mereka dapat mengumpulkan modal yang banyak untuk membangun negara mereka.

Jadi, hiduplah hemat – apalagi dengan kenaikan harga minyak baru-baru ini. Tidak perlulah bermegah-megah dengan hidup boros, apalagi dengan penghasilan yang tidak memadai. Dengan hidup hemat, kita menjadi bersikap sederhana dan tidak pamer dengan kekayaan. Inipun sesuai dengan tuntutan agama kita, agama Islam: “Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan rasa sombong. “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung” (Al Israa’ [17]: 37). Wallahualam.

Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?

Apa itu budaya ilmiah atau biasa juga disebut sebagai budaya saintifik (scientific culture)? Apakah kita sudah memiliki budaya tersebut? Pertanyaan yang penting bagi institusi pengajian tinggi. Saya teringat dengan jawaban dari beberapa orang visiting professor yang saya tanyai apa syarat-syarat sebuah universitas bisa menjadi universitas yang terkenal — seperti universitas tempat mereka bekerja. Kebetulan mereka berasal dari universitas yang memiliki prestasi akademik yang hebat; Osaka University, Hokkaido University, University of London dan Leipzig University. Kenapa kita tidak dapat seperti mereka? — walaupun kita memiliki fasilitas penelitian yang tidak kalah daripada mereka? Jawabannya adalah kita masih belum memiliki budaya ilmiah.

Patut disadari bahwa universitas tidak akan menjadi unggul dan dihormati dari segi akademik jika orang-orang yang berada dalam universitas tersebut tidak memiliki budaya ilmiah. Menurut saya, tidak ada jalan lain selain membangun dan melaksanakan budaya ilmiah untuk membawa universitas menjadi unggul dan disegani — karena inilah yang harus perlu dibina sejak awal universitas itu dibangun.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan “Sudahkah kita memiliki budaya ilmiah?”. Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui unsur-unsur yang diperlukan untuk membangun budaya ilmiah tersebut.

Norma ilmiah

  • Memberikan penghargaan (credit) yang sepatutnya kepada orang yang memberikan kontribusi kepada penelitian; pengarang bersama (authorship) atau ucapan terima kasih (acknowledgement) — (Catatan: Norma ini yang selalunya tidak diikuti — mungkin untuk kenaikan pangkat atau ingin dianggap hebat oleh orang lain).
  • Jujur dalam memberikan penilaian kepada hasil pekerjaan orang lain.
  • Publikasi di jurnal ilmiah yang dinilai oleh rekan sejawat (peer-reviewed journals) adalah media untuk menciptakan reputasi. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada jalan selain ini — reputasi ilmiah tidak akan tercipta melalui publikasi di koran dan televisi.

Ciri-ciri dari budaya ilmiah

  • Metoda saintifik.
  • Penilaian dari rekan sejawat (peer-reviewed system).
  • Akumulasi dari pengetahuan yang dipublikasikan dalam peer-reviewed journals dan disimpan untuk bahan rujukan.
  • Buku catatan laboratorium — (Catatan: Saya mengamati banyak kawan-kawan saya yang juga dosen, walaupun mereka lulusan dari perguruan tinggi ternama, mereka tidak mempunyai buku ini, walaupun ada — tetapi tidak ditulis dengan cara yang betul)

Kebiasaan ilmiah

  • Selalu mempublikasikan hasil penelitian. (Catatan: Masih banyak profesor yang sedikit sekali publikasinya, yang menandakan mereka tidak pernah melakukan penelitian yang bermutu — Apakah mereka masih dianggap pakar?)
  • Dapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya — PhD dalam bidang sains.
  • Pendidikan yang dimulai dengan bimbingan dan kemudian baru bekerja secara mandiri.
  • Mobilitas yang tinggi dari para saintis, berpindah dari satu universitas ke universitas yang lain.
  • Selalu berinteraksi dengan orang-orang yang pintar yang memiliki ketertarikan dalam bidang yang sama dalam sains.

Peraturan-peraturan dalam dunia ilmu pengetahuan

  • Menyelidiki efek dari satu variabel dengan cara mengontrol variabel-variabel yang lain.
  • Selalu beragumentasi berasaskan fakta-fakta yang betul.
  • Mengemukakan hipotesis, iaitu kesimpulan sementara dari proses penelitian, yang nantinya akan dibuktikan kebenarannya.
  • Selalu merujuk hasil penelitian orang lain.
  • Selalu menyimpan hasil-hasil penelitian dengan rapi, supaya orang lain dapat mengulangi eksperimen-ekesperimen yang telah dilakukan.
  • Penemuan yang luar biasa selalunya harus didukung oleh fakta-fakta pendukung yang juga luar biasa.
  • Teori dikatakan bagus jika teori tersebut dapat menjelaskan banyak fenomena-fenomena, dibandingkan dengan teori yang hanya sesuai untuk beberapa fenomena saja.
  • Jika data baru tidak sesuai dengan teori lama, salah-satu dari mereka — data baru atau teori lama tersebut — pasti tidak betul.
  • Alam semesta ini selalunya memiliki aturan-aturan yang jelas dan juga teratur.

Hal-hal yang tidak patut dilakukan dalam dunia ilmu pengetahuan

  • Tidak objektif dan tidak menerima fakta-fakta yang didapatkan dari hasil eksperimen yang dilakukan dengan cara yang betul.
  • Menipu dalam melaporkan data — membuat data palsu dan mengubah data.
  • Plagiat.
  • Tidak memberikan penghargaan (credit) kepada orang yang juga memberikan sumbangan ilmiah kepada penelitian yang dilakukan.

Setelah membaca tulisan ini, saya mengharapkan, terutama kepada orang-orang yang menganggap dirinya saintis dan ilmuwan, untuk kembali bertanya “Apakah kita memiliki budaya ilmiah?”

Professor Michio Matsumura [7 May 2008]

Professor Michio Matsumura (Research Center for Solar Energy Chemistry, Osaka University) came to UTM as visiting professor from 27 to 7 May 2008. He delivered 2 scientific talks and one day workshop at Ibnu Sina Institute and discussed the possible collaboration between UTM and Osaka University and also with MIMOS Bhd.

Prof. Matsumura in my office