Tour de East Java [23 to 28 August 2008]

Tour de East Java from 23 to 28 August 2008: I was invited as a speaker at Workshop on Catalysis at Department of Chemistry, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya (25/08/2008) and;  Enjoy two days sightseeing to Mount Bromo (26-27/08/2008). More than 50 participants attended the workshop. Dr. Sugeng Triwahyono and Dr. Irmina Kris Murwani are also speakers at this workshop. Thanks to staff of ITS and Dr. Sri Rahayu (sister of Dr. Sugeng) for sponsorship and hospitality during my stay at Surabaya.

Workshop Katalis 2008

Pengalaman mantan mahasiswa di Perancis

Hari ini saya kedatangan mantan mahasiswa saya, Ng Eng Poh, yang sekarang sedang belajar untuk program PhD di L’Université de Haute-Alsace, Perancis. Banyak cerita mengenai riset dan pengalaman belajar di negeri orang yang saya dengan dari beliau. Kebanyakan cerita tersebut adalah mengenai sang mentor PhD yang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam penelitian dan juga sangat menguasai bidang yang ditekuni. Beliau menceritakan bagaimana budaya ilmiah telah terbangun disana. Dalam percakapan kami yang mengasyikan di sebuah restoran di Jusco, Taman Universiti dan juga di kamar kerja saya — terlintas juga dalam benak saya, bagaimana ‘prestasi’ saya dalam menggeluti bidang saya disini. Kadang-kadang ada perasaan malu dan juga sedih melihat keadaan dan situasi ‘budaya ilmiah’ yang belum terbangun di universiti tempat saya bekerja. Mudah-mudahan akan ada ‘political will‘ yang cukup untuk mengubah keadaan ini dari para pengambil keputusan di universiti ini. Insya Allah

Doa bapak dan mamak

“Bapak” dan “mamak”, begitulah saya memanggil ayah (77 tahun) dan ibu (74 tahun) saya. Walaupun umur saya yang hampir kepala empat saya masih selalu meminta pendapat dan saran-saran mereka — terutama ketika saya ditimpa masalah. Adalah kebiasaan saya selalu menelpon mereka yang sudah pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Padang, Indonesia — paling tidak sekali dua minggu. Saya percaya, dengan doa dan restu merekalah saya dapat berkarir seperti sekarang ini. Mereka selalu berkata, “Kami selalu mendoakan anak-anak supaya mereka diberikan jalan yang terbaik“. Walaupun saya tidak jadi pindah ke Universiti Malaysia Pahang, dan tetap di sini (Universiti Teknologi Malaysia) — bagi mereka, inilah jalan yang terbaik yang ditunjukkan oleh Allah SWT kepada saya.

Indahnya sebuah universitas

Richard Feynman, pemenang Nobel Fisika pernah mengatakan bahwa sebagai saintis dia akan lebih menikmati keindahan bunga dengan lebih ‘mendalam’ dibandingkan artis. Artis atau orang biasa hanya akan menikmati dan mengapresiasikan keindahan bunga — hanya dari tampak luar saja. Sebagai saintis dia lebih menikmati keindahan bunga — bukan hanya dari bentuk luarnya saja — tetapi jauh lebih dalam, seperti struktur molekul, metabolisme, biofisika dan aspek-aspek ilmiah yang lain.

Berpijak dari pandangan di atas, sebagai dosen dan peneliti, saya juga dapat menganologikan universitas sebagai ‘bunga’-nya Richard Feynman. Universitas bukan hanya dilihat dari fasilitas fisiknya saja (tampak luarnya saja), tetapi jauh lebih dalam — iaitu ‘proses’ pendidikan dan penelitian didalamnya. Proses ini harus didasari dari ‘budaya ilmiah‘. Universitas harus memperhatikan dan melaksanakan proses ini supaya menjadi universitas yang terpandang. Apalah artinya publikasi ilmiah, paten dan medali-medali yang didapatkan dari pameran jika hanya memamerkan ‘keindahan luar’ dari universitas — sama seperti bunga yang keindahannya hanya dinikmati oleh orang-orang biasa yang tidak mengerti mengenai keindahan sebenarnya dari bunga, seperti yang dikatakan oleh Richard Feynman.