Apakah universitas kita beretika?

Tulisan ini saya tulis setelah membaca review dari buku yang berjudul “The Decline of the Secular University” yang diterbitkan tahun 2006, yang ditulis oleh Prof. C. John Sommerville, Emeritus Profesor dalam bidang sejarah dari University of Florida. Apa yang menarik adalah, Prof. Sommerville menyatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah universitas sekular yang tidak lagi memperhatikan aspek rohani dan spiritual. Bertolak dari pandangan tersebut saya mencoba mengaitkannya dengan etika, karena saya beranggapan bahwa jika aspek rohani dan spiritual ini tidak ada, maka kita juga cenderung tidak mengabaikan etika. Walau bagaimanapun juga etika (ethics) juga dapat berjalan tanpa adanya aspek rohani dan spiritual, tetapi etika tersebut tidak mempunyai ‘ruh’ spiritual. Yang ada hanyalah sekumpulan peraturan-peratauran (code of ethics) yang tidak mempunyai asas yang kukuh. Ada baiknya semua peraturan-peraturan tersebut dilandaskan kepada ‘sesuatu’ yang boleh menjadi ‘guideline‘ yang lebih kokoh, yaitu rohani dan spiritual. Dengan kata lain dalam bahasa Inggris dapat saya sebutkan bahwa “university needs religion because only religious people follow a moral codes“.

Saya melihat bahwa banyak universitas-universitas di dunia, oleh karena berbagai sebab, terutama karena persaingan untuk mendapatkan pengiktirafan atau prestise, mereka berani melanggar etika-etika akademik yang banyak dipakai dan diterima oleh dunia akademik, dan banyak yang sanggup menampilkan prestasi-prestasi yang sebenarnya bukan ‘prestasi akademik’ untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah universitas yang hebat.

Jadi apa yang dapat saya sarankan adalah, universitas-universitas harus melihat “academics ethics‘ dari sudut pandang rohani dan spiritual. Hal ini haruslah disampaikan kepada seluruh staf akademik, sehingga mereka dapat melihat rambu-rambu dalam menjalankan aktivitas teaching and research. Menurut saya hal ini harus disampaikan, mungkin dalam bentuk workshop atau seminar. Para mahasiswa juga wajib mengikuti kegiatan ini selama mereka melakukan research di universitas. Banyak contoh-contoh yang menurut sebahagian orang kecil, namun bagi saya merupakan masalah etika yang mempunyai impak yang besar. Sebagai contoh kecil, seorang pembimbing dengan gagahnya meletakkan namanya paling depan di publikasi ilmiah, padahal dia tahu bahwa semua kegiatan research tersebut dari membuat proposal, mendapatkan data dan membuat publikasi ilmiah tersebut adalah mahasiswanya. Alangkah beretika jika pembimbing tersebut meletakkan nama mahasiswa tersebut paling depan, karena dialah yang mempunyai kontribusi paling banyak dari publikasi tersebut. Patut diingat, bahwa para mahasiswa kita, mungkin pada masa yang akan datang juga menjadi profesor dan ilmuwan. Mereka mungkin akan lebih hebat dari pembimbing mereka. Sebaiknyalah kita tidak merusak nama kita dengan hal-hal kecil seperti ini — yang hanya untuk kepentingan naik pangkat dan prestise.

Nah, bagi pembaca blog ini, terutama staf akademik dan juga mahasiswa, dapat merasakan dan menjawab pertanyaan dari judul tulisan saya “Apakah universitas kita beretika?”

Holiday experience in Terengganu [6-9 June 2009]

Terengganu has the longest and beautiful beach in Malaysia, perfect and an ideal destination for beach holiday vacation. We had a truly unique and beautiful holiday experience in Terengganu. We along with my cousin Inggo Laredabona and his wife Risyda also visited Crystal Mosque and Chemerong waterfall in Terengganu.

Pantai Temasik Mesjid Kristal Pantai Temasik Air Terjun Chemerong Pantai Temasik

Apa itu narsis?

Narsisisme adalah kepribadian dimana orang tersebut jatuh cinta dengan dirinya. Orang yang terjangkit ‘narsisme’ ini akan mudah dikenali karena selalu berbicara dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya.

Ini beberapa gejala ‘narsisme’:
/1/ Selalu berusaha menarik perhatian orang lain, karena biasanya orang yang’narsis’ selalu merasa dirinya tidak berguna jika tidak diperhatikan orang lain.
/2/ Orang yang narsis selalu berbicara bahwa dirinya adalah yang terbaik.
/3/ Orang yang narsis selalu terobsesi dengan fantasi mengenai kesuksesan dan ketenaran.
/4/ Selalu mengharapkan orang lain mengatakan bahwa dirinya hebat.

Apakah orang yang’narsis’ benar-benar hebat?

Orang narsis sebenarnya hanyalah orang yang berusaha untuk membesar-besarkan dirinya karena dia mempunyai perasaan ‘inferior’ dalam dirinya. Sama dengan kesombongan, narsisme juga digunakan sebagai perisai untuk menutupi kekurangan itu. Terdapat perbedaan kecil antara narsisisme dengan orang yang mempunyai keyakinan kuat (over confidence). Sebagai contoh dengan keyakinan kuat: kurangnya keyakinan yang kuat dapat membuat anda tinggal di rumah daripada pergi berenang di laut.

Saya yakin bahwa tidak seorangpun ingin sifat narsis berjangkit pada dirinya. Narsis tidak akan bersarang pada diri kita jika kita yakin bahwa semua prestasi-prestasi yang telah kita raih telah dapat memuaskan diri kita, dan berpikir bahwa semua prestasi yang diraih adalah atas izin Allah SWT. Dengan memahami dimana kelebihan, kekuatan dan kekurangan kita, Insya Allah, narsisme dapat dihindari. Kuncinya adalah dengan mencari kesetimbangan antara kelebihan dan kekurangan (inferior) kita, dan bersandarkan semua yang kita raih adalah atas ridha Allah SWT.

Ini semua juga menjadi peringatan bagi saya pribadi.

Mengapa saya me-‘reject’ manuskrip di jurnal?

Dalam 2 tahun ini, sebagai reviewer di beberapa jurnal dalam bidang Catalysis yang diterbitkan oleh Elsevier, saya telah merekomendasikan untuk me-reject hampir 80% manuskrip (dari sekitar 30 manuskrip) yang dikirim kepada saya oleh editor. Kebanyakan manuskrip yang dikirim tersebut berasal dari universitas-universitas di Cina. Saya tidak tahu, apakah ini karena kebetulan atau memang jumlah manuskrip dari universitas dari Cina itu sangat banyak. Namun, saya juga menemukan beberapa manuskrip dari universitas ternama yang tidak berkualitas — yang terpaksa di-reject.

Ini alasan yang membuat saya tidak menerima manuskrip-manuskrip tersebut untuk dipublikasikan:
Originality. Biasanya dalam paper yang tidak original, arah dan hasil analisisnya sangat mudah ditebak.
Speculation. Banyak analisis dan kesimpulan tidak didukung oleh data-data yang lengkap dan akurat sehingga jump into conclusion.
Logic. Kadang-kadang teknik analisis yang digunakan tidak tepat dan juga tidal logic dalam menganalisis data.

UTM Promotional Visit to Pekanbaru [14-16 May 2009]

I along with Assoc. Prof. Dr. Ismail Said (Head of Landscape Architecture Department), Assoc. Prof. Abdul Razak Ismail (Director of Alumni Unit),   Assoc. Prof. Dr. Othman Che Puan (Deputy Dean of School of Postgraduate Studies) and Assoc. Prof. Dr. Syed Abdul Rahman Syed Abu Bakar (Head of Department of Postgraduate Studies, Faculty of Electrical), visited Indonesia during 14-16 May 2009, highlights of which are provided below. The UTM delegation had a courtesy visit to Mr. Wan Syamsir Yus, Secretary of Riau Province. The UTM delegation visited Politeknik Caltex Riau (PCR), Universitas Lancang Kuning, Universitas Riau, Universitas Islam Riau and Universitas Islam Sultan Syarif Kassim. All the universities visited, in collaboration with UTM, are planning to conduct student exchange. During promotional visit, I along with Dr. Ismail Said and Dahliyusmanto were interviewed by Radio Republik Indonesia (RRI) and Riau Pos. Please download the report here (in Malay).

Kunjungan ke Pekanbaru

Thank you very much for my birthday wishes [6 May 2009]

Today I have received many kind wishes for my 40th birthday and want to thank all those who have sent messages or e-mails; they are really appreciated. Those wishes were also on my Facebook wall.  It was an awesome social media birthday!

To all of my students, thank you so much for birthday cake surprise!

Birthday cake