Kamar kerjaku dan Prinsip 5S

Inilah situasi kamar kerjaku yang di foto pada 21 Agustus 2007:

Tadi, dengan bantuan Farid, saya membersihkan kamar yang berantakan itu dan inilah hasilnya:

Di bawah ini adalah kertas-kertas dan kotak-kotak yang dibuang, yang ditumpuk selama hampir 3 tahun.

Sebenarnya, saya ingin menerapkan Prinsip 5S yang sedang diterapkan di tempat saya bekerja. Apa itu Prinsip 5S?

PRINSIP 5S (SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE)

SEIRIPut things in order (remove what is not needed and keep what is needed)

1. Jangan meletakkan barang-barang yang tidak diperlukan di atas/ di bawah meja; yang boleh menghalang laluan di tempat kerja; di bilik mesyuarat atau bilik yang tertutup.

SEITONProper Arrangement (Place things in such a way that they can be easily reached whenever they are needed)

1. Simpan barang-barang dan peralatan-peralatan dengan teratur supaya senang dicapai.
2. Jangan meletakkan barang-barang dalam keadaan mengelilingi atau menghalang alat-alat memadam api atau alat-alat keselamatan.

SEISOClean (Keep things clean and polished; no trash or dirt in the workplace)

1. Sentiasa bersihkan mesin-mesin dan peralatan-peralatan.
2. Bersihkan tempat rehat dan kawasan merokok secara bergilir-gilir.

SEIKETSUPurity (Maintain cleanliness after cleaning – perpetual cleaning)

1. Setiasa memelihara kebersihan pakaian dan kasut kerja.
2. Gunakan tempat membasuh tangan dan tandas dengan betul.

SHITSUKECommitment (Actually this is not a part of ‘4S’, but a typical teaching and attitude towards any undertaking to inspire pride and adherence to standards established for the four components)

1. Beri salam dalam keadaan ceria dan bertenaga.
2. Gunakan alat-alat perlindungan dengan betul.
3. Bimbing atau melatih yang lain.

Kita ini adalah ‘problem seeker’

Itu adalah kalimat yang saya sampaikan ketika menjadi penilai proposal penelitian staf dosen UTM yang mengikuti kursus untuk melanjutkan studinya pada 23 Desember yang lalu. Tidak jelas apa masalah yang akan diteliti di dua proposal yang saya baca dan nilai tersebut. Kadang-kadang para mahasiswa (terutama dalam bidang sains) tidak mengerti bahwa sebenarnya memformulasikan masalah adalah tahapan yang sangat penting dari suatu penelitian. Jika masalah diformulasikan dengan baik — penelitian akan dengan ‘mudah’ dilakukan. “We are a problem seeker” — itulah kalimat yang paling tepat. Proposal yang baik selalu didasarkan kepada ‘scientific issue‘, bukannya hanya sekedar membuktikan “sesuatu itu” salah atau benar atau hanya sekedar meningkatkan ‘performance‘ suatu teknik atau metoda. Hal-hal yang kadang-kadang juga tidak dimengerti oleh sebagian dosen-dosen yang membimbing mahasiswa. Bagaimanapun juga, topik-topik yang baik selalunya keluar dari para peneliti yang berpengalaman. Berpengalaman bekerja di laboratorium dan juga membimbing mahasiswa. Seharusnya dosen menjadi tempat bertanya. Banyak dosen-dosen kawan saya disini yang hanya bergantung kepada mahasiswa — bukan sebaliknya. Kenapa demikian, ini karena para dosen tidak lagi berakar di laboratorium. Para dosen dan para profesor telah meninggalkan dunia penelitian yang sebenarnya — ‘they are flying away‘ kata Profesor Dieter Freude dari Leipzig University kepada saya.

Budaya ilmu masih tidak nampak

Tahun ini saya menghadiri dua seminar International, satu di Australia (International Conference On Nanoscience and Nanotechnology di Melbourne pada bulan Februari) dan satu lagi di Malaysia (International Graduate Conference on Science and Engineering, di UTM Johor Bahru kemaren). Saya hanya membandingkan dari aspek ‘budaya ilmu” yang direfleksikan dari kedua seminar tersebut, walaupun dua seminar ini tidak dapat dibandingkan dari segi kualitas paper yang dipresentasikan dan juga orang-orang yang datang menghadiri seminar tersebut.

Sewaktu di Australia, hampir semua sesi penuh dengan peserta-peserta yang mendengarkan presentasi. Para pesertapun aktif bertanya sewaktu seminar dan berdiskusi waktu jam istirahat. Di sini, peristiwa yang sama tidak terjadi. Hanya 6 dari 8 peserta yang datang — beberapa peserta hanya datang pada saat sesi mereka, kemudian hanya 2 orang peserta selain presenter yang ikut mendengarkan seminar sewaktu saya menjadi chairman dari salah satu sesi pada pagi hari. Padahal dari catatan buku abstrak lebih dari 200 peserta yang memberikan oral presentation di beberapa sesi paralel. Kemana para peserta yang lain? Tapi bagi saya kesimpulannya adalah ‘budaya ilmu masih belum nampak (ada)’.

Cerita “Robohnya surau kami” ternyata masih relevan

Saya teringat dengan cerpen “Robohya Surau Kami”, karangan Ali Akbar Navis, yang saya baca ulang diperpustakaan orang tua saya di Padang bulan Agustus 2008 yang lalu — ketika saya berlibur kesana. Kebetulan pak Ali Akbar Navis (almarhum), pengarang cerpen itu, adalah kawan ayah saya. Sayapun pernah diajak ayah saya berkunjung ke rumah pak Navis di Padang. Cerpen itu juga mengingatkan saya untuk lebih mengetahui apa itu ibadah. Cerpen ini juga saya anggap masih relevan saat ini walapun dipublikasikan 52 tahun yang lalu. Apakah ibadah itu hanya sekadar rajin shalat ke mesjid? ataukah lebih daripada itu?

Di bawah ini adalah sinopsis dari cerpennya pak Navis yang saya salin dari http://id.wikipedia.org/wiki/Robohnya_Surau_Kami:

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Mesjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun. Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Penasaran untuk baca cerpen lengkapnya? Silahkan download PDF file berikut ini: Robohnya surau kami.

Mentalitas profesional seorang profesor

Tulisan ini adalah modifikasi dari tulisan Jansen H. Sinamo yang berjudul “7 Mentalitas Profesional” yang saya yang saya pikir juga berlaku untuk seseorang yang bergelar Profesor:  

Sejak saya dipromosikan sebagai associate professor banyak kawan-kawan saya memanggil saya “prof”, suatu gelaran yang kadang-kadang membuat saya malu dan bertanya: “Layakkah saya dipanggil dengan gelar itu?”. Saya malu karena saya merasa mentalitas saya tidaklah mencermin kualitas profesional seorang profesor ‘yang sebenarnya’ — kalau tidak dikatakan ‘profesor kampung’ yang hanya jago bertanding dikandang sendiri. Tulisan ini betujuan untuk menggambarkan sikap dan mentalitas yang perlu dipunyai oleh seorang profesor. Saya akan berusaha kearah itu, Insya Allah.

Mentalitas Mutu
Inilah ciri utama dari seorang profesor yang profesional, yaitu mementingkan kualitas daripada kuantitas. Silahkan baca tulisan saya yang berjudul Quantity or Quality? pertanyaan yang saya coba jawab pada tulisan saya tersebut. Menurut saya seseorang tidaklah layak menjadi seseorang profesor jika dia hanya mengandalkan kuantitas saja — apakah karena telah mengajar selama puluhan tahun tanpa sembarang hasil penyelidikan yang berkualitas layak dihargai sebagai profesor?

Mentalitas Altruistik
Inilah mentalitas kedua yang harus dipunyai oleh seorang profesor — setelah dia memenuhi mentalitas mutu di atas. Mentalitas ini didorong oleh pengabdian untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu yang dipunyainya untuk orang lain. Menurut Wikipedia: “Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan ‘orang lain’ tanpa memperhatikan diri sendiri”. Dalam hal ini, karena profesor selalu berhadapan langsung dengan masyarakat ilmiah dan mahasiswa yang diajar dan dibimbingnya, maka mereka tersebut adalah ‘orang lain’ tersebut.

Mentalitas Mendidik
Mendidik tidak sama dengan mengajar. Dalam mendidik faktor panutan memegang peranan penting. Tidaklah mendidik jika seorang profesor bercerita bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tercela jika dia melakukan plagiat dan tidak menghargai jerih payah mahasiswanya — seperti dengan mencantumkan namanya paling depan dipublikasi ilmiah — padahal semua hasil dalam publikasi ilmiah itu adalah hasil jerih payah mahasiswanya, dari ide, membuat proposal dan menulis publikasi tersebut. Sang profesor hanya bertugas memperbaiki bahasa Inggrisnya saja.

Mentalitas Pembelajar
Profesor hendaklah selalu meng-update pengetahuannya setiap saat. Jangan sampai mahasiswa yang dibimbingnya mengatakan profesor tersebut tidak layak sebagai pembimbing. Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa yang mengatakan hal ini kepada saya. Sampai mahasiswa tersebut menasehati profesornya untuk memberikan perhatian yang lebih banyak kepada penyelidikan. Sungguh sangat memalukan.

Mentalitas Pengabdian
Mengabdi untuk bidang ilmu merupakan mentalitas profesional seorang profesor. Masih banyak profesor ‘administrasi’ yang tidak mempunyai mentalitas ini — dimana seseorang diangkat menjadi profesor karena jabatan administrasi bukan karena prestasi ilmiah. Sebagai contoh, seseorang dinaikkan pangkat menjadi profesor karena ‘akan’ atau telah ‘menjabat’ sesuatu jabatan administratif seperti dekan atau pembantu dekan.

Mentalitas Kreatif
Kreativitas tidak hanya perlu dipunyai oleh profesor tetapi juga oleh semua orang. Namun, jika profesor tidak kreatif, dapat dibayangkan bahwa tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang dihasilkan olehnya.

Mentalitas Etis
Masalah etika kadang-kadang jarang diperhatikan. Silahkan rujuk tulisan saya mengenai masalah ini yang telah dipublikasikan di blog ini tahun lalu dengan judul: Etika Sains Dalam Riset Dan Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Visiting Japan [21 November 2008]

Tokyo dan Osaka -- Nopember 2008

 

I pay a visit to Japan from 9 to 21 November 2008. From 10 to 15 November I attend an advanced training on scanning electron microscope at JEOL Datum Ltd, Tachikawa-shi, Tokyo, Japan. I also attend signing ceremony of Memorandum of Understanding (MoU) and commerative symposium between Osaka University and Universiti Teknologi Malaysia at Graduate School of Engineering Science in Toyonaka campus on 20 November 2008. Finally, the MoU was signed after 3.5 years of my initiative to make a collaboration with Graduate School of Engineering, Osaka University — one of the prestigious university in Japan and in the world. This MoU is not possible without any support from Professor Michio Matsumura and also Professor Shigeru Ikeda of  Research Center for Solar Energy Chemistry, Osaka University. Click here for photos and here for full report in PDF file.