Bertindak strategis atau taktis?

Dalam hidup ini kita harus melangkah dan bertindak secara strategis (jangka panjang)  dan taktis (jangka pendek). Namun dalam hidup ini, susah untuk meramalkan apa yang akan terjadi kepada kita dan lingkungan kita pada masa akan datang, karena banyak sekali memiliki parameter-parameter yang susah untuk ditetapkan. Sebagai contoh, dari dulu saya tidak pernah membayangkan saya akan menjadi seorang dosen di Malaysia … Jadi hadapi hidup ini apa adanya, bersyukur dengan apa yang dimiliki dan tetap optimis …. (ini adalah nasehat dari saya untuk diri saya sendiri).

To be a lecturer: What is the aim?

I have asked a question to a closed friend: “Why do you want to be a lecturer?” His reply:  “I want to be a rector”. His aim maybe correct, because rector is the highest position in a University. But, if we see with another perspective,  the answer could have deviated from the main aim of to be a lecturer, because the main job and aim of a lecturer is teaching.  I still remember when I was a student at Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Wiranto Arismunandar, a former rector of ITB, although he was busy as a minister of higher education in Indonesia, he still devoted to teach. This could apply to Prof. Emil Salim, a former minister in Suharto’s cabinet, which also a professor in Universitas Indonesia (UI).  We must enquire to ourselves (including my self), that our aim to be a lecturer in university is to teach and to do research.

Nasib saintis (penipu)

Akhirnya Jan Hendrik Schön penerima “Otto-Klung-Weberbank Prize” dalam bidang fisika pada tahun 2001, Braunschweig Prize pada tahun 2001 dan Outstanding Young Investigator Award of the Materials Research Society pada tahun 2002 bernasib malang karena telah terbukti memalsukan hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan di jurnal terkenal Science dan Nature.  Kisah  ini penting diketahui oleh para dosen (pensyarah) di Universitas, supaya memberi kesadaran bahwa kejujuran dan etika akademik harus dijunjung tinggi.

Ini yang dikatakan oleh Professor Paul McEeun dari Cornell University  mengenai Jan Hendrik Schön: “The amazing thing about Hendrik was that everything he touched seemed to work.

Definisi pakar

Apa itu pakar atau expert ?

Hal ini kadang-kadang memeningkan kepala, karena banyaknya orang yang diakui dan dianggap sebagai pakar, dan banyaknya orang yang mengaku dirinya adalah pakar.  

Ini adalah penjelasan saya mengenai pakar. Bagi saya pakar adalah “seseorang yang telah menguasai bidangnya dengan sangat baik sehingga dia dapat memberikan respon yang sangat cepat (kadang kala respon ini muncul tanpa berpikir panjang — dan mungkin sekali muncul dari ketidaksadaran) jika seseorang tersebut mendapatkan ‘rangsangan’ yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya“.    

Sebagai contoh, seorang dosen (pensyarah) yang sudah puluhan tahun mengajar ‘termodinamika kimia’ akan cepat sekali menjawab pertanyaan mahasiswanya (dengan jawaban yang benar) mengenai bidang yang diajarnya tanpa kelihatan berpikir keras. Dosen ini dapat digelari pakar dalam bidang ‘termodinamika kimia’ yang diajarnya. 

Inilah yang membuat saya tidak merasa menjadi ‘pakar’, karena seringkali jika mahasiswa bertanya sewaktu kuliah,  saya menjawab … saya tidak tahu, besok akan saya coba menjelaskannya kepada anda … 

Saintis ‘gadungan’

‘Gadungan’ = imitation

Tulisan yang ditulis oleh Prof. Gerard ′t Hooft (penerima hadiah Nobel fisika tahun 1999), yang berjudul “How to become a bad theoretical physicist” patut dibaca oleh para saintis dan juga oleh orang-orang tidak mengerti sains yang kadangkala banyak ‘tertipu’ oleh ‘kehebatan’ saintis-saintis ‘gadungan’.

Para saintis ‘gadungan’ ini biasanya selalu mengikuti aktivitas-aktivitas promosi hasil penelitian yang tidak bersifat ilmiah. Mereka jarang sekali mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam seminar-seminar ilmiah (yang dihadiri oleh saintis-saintis lain yang sebidang dengan mereka) dan mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal-jurnal yang berkualitas.  Jika ikut seminar, itupun dalam bentuk poster.  Jika ada publikasi, itupun dalam jurnal-jurnal yang tidak dikenal atau diakui oleh komunitas saintifik (scientific community).  Para saintis ‘gadungan’ ini biasanya selalu menghindar daripada  komunitas saintifik, dan akibatnya mereka tidak dikenal oleh komunitas tersebut.  Namun adakalanya dengan kekuatan ‘politik’ dan media massa,  dan seringnya mereka mengikuti aktivitas-aktivitas promosi hasil penelitian yang tidak bersifat ilmiah tersebut,  saintis ‘gadungan’ ini dapat juga dikenal dengan baik oleh ‘masyarakat’, iaitu masyarakat ‘awam’ yang tidak mengerti apa itu sains.