Generasi Y: generasi “cuek atau tak kesah”

Dua perkataan yang sama artinya: cuek (Indonesia) = tak kesah (Malaysia)

Generasi Y, yang juga dikenal sebagai The Millennial Generation, merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kelompok generasi yang lahir tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an. Ciri-ciri dari generasi ini adalah, mereka sangat akrab dengan dunia digital. Sebahagian besar dari mereka memiliki komputer, handphone, dan pemutar MP3 (iPod, Zune, Sansa, dll). Mereka juga sangat gemar menggunakan SMS melalui handphone, situs-situs sosial (Facebook, Friendster dll), men-download musik dan software menggunakan peer-to-peer file sharing.

Namun yang agak memprihatinkan adalah, bahwa generasi ini sangat “materialistik” dan “cuek” atau “tak kesah”. Dan di bawah ini adalah hasil survey yang dilakukan oleh USA Today. Dan… generasi inilah yang sekarang sedang saya ajar di universitas.

Prof. Ohtani visit to Kuala Lumpur [30 June 2009]

Prof. Bunsho Ohtani visit Kuala lumpur to interview my former MSc student, Ms. Sheela Chandren, who apply for AGS (Asian Graduate School of Chemistry and Materials Science) scholarship at Hokkaido University. Prof. Ohtani was my mentor during my stay as posdoctoral fellow in his laboratory from 1999 to 2002 at Hokkaido University.

Kuala Lumpur - June 2009

Apakah universitas kita beretika?

Tulisan ini saya tulis setelah membaca review dari buku yang berjudul “The Decline of the Secular University” yang diterbitkan tahun 2006, yang ditulis oleh Prof. C. John Sommerville, Emeritus Profesor dalam bidang sejarah dari University of Florida. Apa yang menarik adalah, Prof. Sommerville menyatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah universitas sekular yang tidak lagi memperhatikan aspek rohani dan spiritual. Bertolak dari pandangan tersebut saya mencoba mengaitkannya dengan etika, karena saya beranggapan bahwa jika aspek rohani dan spiritual ini tidak ada, maka kita juga cenderung tidak mengabaikan etika. Walau bagaimanapun juga etika (ethics) juga dapat berjalan tanpa adanya aspek rohani dan spiritual, tetapi etika tersebut tidak mempunyai ‘ruh’ spiritual. Yang ada hanyalah sekumpulan peraturan-peratauran (code of ethics) yang tidak mempunyai asas yang kukuh. Ada baiknya semua peraturan-peraturan tersebut dilandaskan kepada ‘sesuatu’ yang boleh menjadi ‘guideline‘ yang lebih kokoh, yaitu rohani dan spiritual. Dengan kata lain dalam bahasa Inggris dapat saya sebutkan bahwa “university needs religion because only religious people follow a moral codes“.

Saya melihat bahwa banyak universitas-universitas di dunia, oleh karena berbagai sebab, terutama karena persaingan untuk mendapatkan pengiktirafan atau prestise, mereka berani melanggar etika-etika akademik yang banyak dipakai dan diterima oleh dunia akademik, dan banyak yang sanggup menampilkan prestasi-prestasi yang sebenarnya bukan ‘prestasi akademik’ untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka adalah universitas yang hebat.

Jadi apa yang dapat saya sarankan adalah, universitas-universitas harus melihat “academics ethics‘ dari sudut pandang rohani dan spiritual. Hal ini haruslah disampaikan kepada seluruh staf akademik, sehingga mereka dapat melihat rambu-rambu dalam menjalankan aktivitas teaching and research. Menurut saya hal ini harus disampaikan, mungkin dalam bentuk workshop atau seminar. Para mahasiswa juga wajib mengikuti kegiatan ini selama mereka melakukan research di universitas. Banyak contoh-contoh yang menurut sebahagian orang kecil, namun bagi saya merupakan masalah etika yang mempunyai impak yang besar. Sebagai contoh kecil, seorang pembimbing dengan gagahnya meletakkan namanya paling depan di publikasi ilmiah, padahal dia tahu bahwa semua kegiatan research tersebut dari membuat proposal, mendapatkan data dan membuat publikasi ilmiah tersebut adalah mahasiswanya. Alangkah beretika jika pembimbing tersebut meletakkan nama mahasiswa tersebut paling depan, karena dialah yang mempunyai kontribusi paling banyak dari publikasi tersebut. Patut diingat, bahwa para mahasiswa kita, mungkin pada masa yang akan datang juga menjadi profesor dan ilmuwan. Mereka mungkin akan lebih hebat dari pembimbing mereka. Sebaiknyalah kita tidak merusak nama kita dengan hal-hal kecil seperti ini — yang hanya untuk kepentingan naik pangkat dan prestise.

Nah, bagi pembaca blog ini, terutama staf akademik dan juga mahasiswa, dapat merasakan dan menjawab pertanyaan dari judul tulisan saya “Apakah universitas kita beretika?”

Holiday experience in Terengganu [6-9 June 2009]

Terengganu has the longest and beautiful beach in Malaysia, perfect and an ideal destination for beach holiday vacation. We had a truly unique and beautiful holiday experience in Terengganu. We along with my cousin Inggo Laredabona and his wife Risyda also visited Crystal Mosque and Chemerong waterfall in Terengganu.

Pantai Temasik Mesjid Kristal Pantai Temasik Air Terjun Chemerong Pantai Temasik