Keprofesoran

Ada dua peristiwa penting dalam perjalanan karir saya sebagai dosen, pertama ketika diangkat sebagai profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 2010, dan dikukuhkan pada tahun 2011, dan kedua ketika dianugerahkan adjunct professor oleh Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 2017. Ada istilah penting yang diharapkan dari penganugerahan tersebut, yaitu ‘keprofesoran’, yang maksudnya adalah sifat dan kewibawaan sebagai profesor. Kewibawaan itu tidak bisa dilihat dari angka-angka saja seperti jumlah publikasi dan sitasi, karena kewibawaan itu hanya kelihatan dari pandangan rekan-rekan sejawat (peer group).

Patut dipahami bahwa profesor adalah jabatan. Dari jabatan ini, diharapkan seseorang itu dapat mengembangkan bidang ilmu yang diembankan kepadanya. Oleh karena ini adalah jabatan, diharapkan seorang profesor tersebut dapat bertindak layaknya sebagai sebuah institusi kecil untuk menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dilihat di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan juga Amerika Serikat dimana seorang profesor mengetuai sebuah unit kecil yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan pendidikan dan riset. Di universitas di Jepang, unit ini dinamakan sebagai Koza. Sebuah Koza mempunyai laboratorium diketuai oleh seorang profesor, dan terdiri dari associate professor, assistant professor, postdoc, mahasiswa B.Sc., M.Sc., dan Ph.D. Dengan begitu, proses dalam pengembangan pendidikan dan riset dapat dilakukan dengan lebih terarah dan mendalam karena setiap Koza mempunyai spesialisasi dalam bidang ilmu tertentu. Dari sinilah keprofesoran itu dapat diwujudkan dan berkembang dengan baik.

Tulisan lama saya mengenai keprofesoran dapat dirujuk dari tautan di bawah ini, yang saya tulis tiga belas tahun yang lalu.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

This blog is mainly written for my own purposes. There has never been any claim that this is an original work.