Prioritas

Saya termasuk orang yang selalu membawa dan membuka handphone, karena semua tugas dan juga berita-berita penting selalu muncul di handphone. Disamping e-mail, WhatsApp merupakan sarana yang sering digunakan untuk tugas-tugas penting. Berita-berita, baik yang penting, tidak penting, hoax, dan gosip juga selalu ditampilkan oleh handphone yang semakin hari semakin pintar. Namun sayangnya alat ini tidak terlalu pintar untuk memilih mana berita yang tidak penting, dan hoax. Semuanya bergantung dari kita sebagai pemakai. Setiap hari saya menerima informasi-informasi ini, dan saya perlu memberikan prioritas dari informasi-informasi yang masuk.

Setiap waktu saya membaca berita mengenai prestasi diri yang ditulis sendiri (self promotion) oleh beragam manusia di Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Isinya adalah pamer; saya dapat ini, saya punya ini, dan ini kerberhasilan saya. Ada yang pamer secara halus, dan ada yang pamer secara langsung, seperti orang yang dahaga atas perhatian dan pujian orang lain.

Pada satu ketika, saya tersentak ketika ada berita mengenai orang yang saya kenal dengan dekat meninggal dunia. Membaca ini, perasaan kagum atas berita-berita prestasi dunia langsung hilang dan tenggelam — dan menjadi tidak berarti. Prestasi dunia seakan-akan tidak ada harganya karena tidak dibawa mati. Yang saya ingat mengenai orang tersebut adalah mengenai kebaikannya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya alam bawah sadar saya, dan mungkin pada setiap orang, mengatakan bahwa kebaikan dalam menjalani kehidupan perlu menjadi prioritas.

Print Friendly, PDF & Email

Published by

Hadi Nur

My name is Hadi Nur, a professor at Universiti Teknologi Malaysia (UTM) and an adjunct professor at Universitas Negeri Malang (UM). I can be reached easily online. Here, the table of content of my blog posts and search what you are looking for here.