Prestasi riset universitas di Singapura

Minggu lalu Lee Kuan Yew, minister mentor Singapura mengatakan bahwa Singapura bukanlah negara biasa (ordinary country) seperti tetangganya Indonesia, Malaysia dan Thailand. Singapura adalah negara yang luar biasa (extra ordinary). Hal ini disampaikannya ketika menjawab pertanyaan mengenai besarnya gaji perdana menteri Singapura dan pegawai-pegawai tinggi di republik tersebut, yang gaji perdana menterinya dua kali gaji George W. Bush, presiden Amerika. Dari segi pendidikan tinggi, pernyataan  Lee Kuan Yew ada benarnya.  Kita tahu bahwa Singapura hanya mempunyai dua universitas iaitu National University of Singapore (NUS) and Nanyang Technological University (NTU). Setelah saya melihat di situs www.scopus.com nampak dengan jelas bahwa dua universitas Singapura tersebut memang extra ordinary jika dibandingkan dengan universitas-universitas di negara tetangganya. Hal ini terlihat dari jumlah publikasi ilmiah dari dua universitas tersebut (lihat Table di bawah ini) yang dibandingkan dengan negara tetangganya dan juga Jepang, India dan Bangladesh.

Nama Negara

Jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan yang masuk daftar SCOPUS

Jepang

1,702,775

India

452,205

Singapura

81,255

Thailand

37,376

Malaysia

24,626

Bangladesh

9,336

Indonesia

9,019

Vietnam

1,072

(Data di atas dicatat pada 4 Mei 2007, jam 3.40 sore)

Nampak dengan jelas bahwa dua universitas itu saja dapat mengalahkan belasan universitas di Malaysia dan ratusan universitas di Indonesia, padahal dosen dan peneliti di NUS dan NTU hampir sama banyak dengan kebanyakan universitas-universitas besar di Malaysia dan Indonesa. Bayangkan produktivitas setiap dosen yang ada disana. Jika kita bandingkan dengan pendanaan universitas, sudah barang tentu budget universitas di Singapura berpuluh kali lipat jika dibandingkan dengan ITB misalnya.  Namun, budget tersebut mungkin tidak sampai berpuluh kali lipat jika dibanding dengan universitas besar di Malaysia. Apa yang menjadi perhatian saya adalah kualitas sumberdaya mereka. Kualitas dosen dan peneliti di Singapura (yang kebanyakannya adalah orang asing) memang patut dipuji. Saya pikir, kita perlu belajar dari Singapura, bagaimana dia dapat mencapai kemajuan ini.

Satu lagi yang menjadi catatan bagi saya adalah, Prof. Tjia May On (dosen fisika ITB) adalah individu yang paling banyak menyumbang dalam publikasi ilmiah, iaitu 64 jurnal ilmiah. Salut dengan pak Tjia!! Saya mengharapkan semangat dan prestasi pak Tjia patut dicontoh. Dengan fasilitas riset yang relatif tidak begitu lengkap di ITB, pak Tjia masih mampu berkarya.

Published by

Hadi Nur

I enjoy living in Johor Bahru area and always seek the truth.

6 thoughts on “Prestasi riset universitas di Singapura”

  1. Wah salut banget buat Prof. Tjia May On. Fasilitas perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri sangat jauh. Kalo ada yang bisa berprestasi di Indonesia, perlu diacungi jempol karena memang susah.

  2. singapura memang luar biasa !!!!
    perbedaan memang dari attitude.

    Pak Hadi Nur, saya adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu PTN Indonesia. Insya Allah, kalau selesai nanti ingin melanjutkan studi ke Singapura. di mana saya bisa mendaptkan info yang lebih lanjut ?

    mohon bantuannya Pak…..
    kalau bisa balas ke e-mail saya.
    terima kasih sebelumnnya. Salam.

  3. SUKSES SEMU
    NEGARA-NEGARA SEKULAR
    Oleh Dr.-Ing. Fahmi Amhar

    Latar Belakang
    Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang kritis politik adalah, “Mengapa negara-negara maju dengan kepemimpinan sekular berhasil menjadikan masyarakatnya adil, makmur, aman, dan maju? Akan tetapi, mengapa sekularisme yang sama tidak berhasil pada negara berkembang?
    Kadang-kadang, karena tidak menemukan jawaban yang logis dan mendalam, dicarilah alasan-alasan historis yang tidak bisa dihindari, misalnya:
    (1) Negara maju pada umumnya ada pada wilayah dengan iklim sejuk, dengan menunjuk contoh: Jepang, Skandinavia, atau Canada. Akan tetapi, jawaban ini menjadi tidak tepat untuk, misalnya, Mongolia atau Korea Utara; juga tidak menjelaskan fenomena di negeri tropis seperti Singapura.
    (2) Negara berkembang yang maju pada umumnya adalah bekas jajajah Inggris. Untuk kasus Singapura atau Malaysia memang tepat. Sebagian juga tepat untuk India. Namun, bagaimana untuk Srilangka atau Yordania, yang juga pernah dijajah atau merupakan “daerah protektorat” Inggris?
    (3) Negara berkembang yang maju itu masyarakatnya didominasi non-Muslim. Ini benar untuk Singapura, juga sebagian di Malaysia, yang sektor bisnisnya memang masih didominasi etnis Cina yang non-Muslim, tidak benar untuk Mexico atau Columbia, yang jelas-jelas mayoritas Nasrani.

    Jadi, ada dua persoalan yang harus dijawab di sini: (1) mengapa sekularisme berhasil di negara maju dan bukan di negara berkembang; (2) sejauh mana beberapa negara berkembang (seperti Malaysia dan Singapura) menjadi maju dengan menggunakan sekularisme.

    Indikator Keberhasilan sebuah Negara
    Keberhasilan politik dan ekonomi sebuah negara biasanya diukur dari angka kepuasan penduduk negeri itu, misalnya dari akses pada sumber-sumber ekonomi yang memberi mereka kesejahteraan; juga akses pada fasilitas publik seperti kemudahan mendapatkan perawatan kesehatan, pendidikan, keamanan hingga kemudahan untuk memperoleh keadilan. Secara kuantitatif, semua itu bisa terukur, misalnya, dari rendahnya angka buta huruf, angka pengangguran, angka kriminalitas dan angka kematian bayi; tingginya angka harapan hidup, rasio guru dan murid, rasio polisi dan jumlah penduduk, rasio alat komunikasi dan media informasi, dan sebagainya.
    Dilihat dari indikator semacam ini, harus diakui bahwa pada saat ini, situasi di negara maju (Jepang, Eropa Barat, AS), atau sebagian negara berkembang (Singapura, Malaysia) memang telah jauh melampaui rata-rata negara berkembang, yang sebagian adalah negeri Muslim.
    Namun, indikator di atas belum memberi gambaran yang lengkap. Ada dua poin yang membuat gambaran tersebut menjadi bias: (1) Indikator tersebut melupakan sifat keberlanjutan pada masa depan; (2) Indikator tersebut tidak memperhatikan efek samping dalam skop global, yang tidak hanya terhenti di negeri tersebut.

    1. Sifat keberlanjutan pada masa depan.
    Banyak orang terpukau dengan kehebatan negara-negara maju. Namun sesungguhnya, kehebatan itu memiliki built-in error yang akan secara dramatis bisa membalikkan situasi di masa depan.
    Persoalan pertama adalah masalah pensiun dan jaminan sosial. Di beberapa negara Eropa seperti Skandinavia, Jerman, atau Austria, terdapat sistem jaminan sosial dan pensiun yang sangat bagus, sehingga praktis semua warga negara tidak perlu merisaukan hari tua mereka; sekalipun mereka tidak punya anak, atau mereka bukan pegawai negeri. Sistem ini mulai diterapkan pasca Perang Dunia II, yaitu ketika sekularisme/kapitalisme mulai mengadopsi beberapa ide sosialisme.
    Meski semula berjalan bagus, ide ini mulai menjadi masalah lima puluh tahun kemudian. Dewasa ini, sistem jaminan sosial tersebut menjadi semakin sulit dibiayai, ketika teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju dan mahal. Sistem itu secara tidak langsung juga berdampak pada pertumbuhan populasi yang negatif. Semakin sedikit keluarga di sana yang berminat untuk memiliki anak, bahkan semakin sedikit orang yang berminat membentuk keluarga. Walhasil, ada proyeksi bahwa pada tahun 2010, setiap orang Austria yang bekerja, harus menanggung beban dua orang pensiun (dengan harapan hidup pasca pensiun masih panjang). Menurunnya populasi inilah yang membuat pemerintah di banyak negara maju mengimpor pekerja dari negara berkembang, termasuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun, keberadaan tenaga asing ini pun lambat-laun akan memicu masalah sosial baru.
    Persoalan kedua adalah masalah konsumsi. Kemajuan yang diraih negara-negara maju itu membuat dayabeli masyarakat tinggi dan mengakibatkan konsumsi yang juga tinggi. Meningkatnya konsumsi ini mengakibatkan meningkatnya kerusakan lingkungan akibat naiknya permintaan bahan mentah dan juga bertambahnya limbah, baik dalam proses produksi maupun pasca konsumsi. Indikator lingkungan yang sering dilansir LSM-LSM lingkungan (seperti Greenpeace) tampak mulai mengkhawatirkan. Sebagai contoh, emisi rata-rata CO2 perkapita dari industri maupun kendaraan di Amerika Serikat sudah puluhan kali dari yang ada di Indonesia.
    Persoalan ketiga adalah masalah orientasi kehidupan. Kemajuan materi yang pesat di negara-negara maju itu ternyata masih belum memenuhi kebahagiaan spiritual manusia-manusia di sana. Di AS dan Jepang tumbuh ribuan sekte spiritual, dari mulai penyembah piring terbang (UFO) sampai yang terang-terangan mengaku menyembah setan. Pengikutnya pun tidak sedikit yang berasal dari kalangan mapan dan intelektual.
    Selain masalah spiritual, para pencari kebahagiaan ini ada juga lari ke narkoba atau petualangan seks. Tidak aneh bahwa bagi Amerika Serikat, musuh yang tidak terkalahkan itu bukanlah Irak dengan (tuduhan) senjata pemusnah massalnya, atau al-Qaeda dengan (tuduhan) terorismenya, namun narkoba! Lebih banyak orang Amerika yang mati karena narkoba, daripada yang tewas pada perisitwa WTC-911 atau gugur di Irak. Narkoba menjadi persoalan yang hampir mustahil diselesaikan. Hal yang mirip juga terjadi di Belanda, ketika pemerintah akhirnya memutuskan untuk membagi saja narkoba secara gratis namun terkontrol, daripada menjadikannya ilegal namun berdampak sosial-ekonomi lebih parah. Indikasi disorientasi kehidupan ini juga tampak pada angka perceraian yang sangat tinggi, yang menjadikan generasi muda di sana rata-rata tidak lagi memiliki figur ayah atau ibu. Akibatnya, tingkat kekerasan pada remaja meningkat, di samping juga angka bunuh diri.

    2. Efek samping dalam skop global.
    Indikator keadilan dan kesejahteraan sebuah negara seharusnya juga dilihat pada skop global. Faktanya, beberapa negara mengandalkan kemajuannya itu dari ekploitasi negara lain, baik dari sisi sumberdaya alam, finansial, SDM maupun tempat pembuangan limbah. Contoh yang unik adalah negeri Swiss yang terkenal dengan coklatnya, padahal di Swiss tidak ada pohon coklat! Sebagian besar energi yang menjalankan roda industri di Eropa, Amerika Serikat, atau Jepang didatangkan dari Timur Tengah. Demikian juga untuk bahan tambang, kayu, sebagian besar produk pertanian, bahkan pasir! Singapura mengeruk pasir dari Riau untuk reklamasi pantainya. Konon, jumlah pasir yang telah dikeruk itu cukup untuk menambal seluruh pantai utara pulau Jawa selebar 60 meter.
    Sebagian besar produk industri dengan merek negara maju sejatinya dibuat di negara berkembang. Produk itu dibuat dengan tenaga murah, kemudian dijual dengan harga berlipat-lipat, karena menyandang merek negara maju. Sejatinya teknologi yang dipakai relatif mudah ditiru, namun teknologi itu diproteksi dengan hak paten sehingga hanya orang yang diberi izin penemunya yang boleh menirunya. Walhasil, cashflow yang ada akan selalu positif di pihak negara maju sehingga mereka bisa mendapatkan barang dan jasa yang lebih banyak daripada negara berkembang mendapatkannya dari negara maju.
    Kekuatan finansial juga merupakan salah satu kunci kemampuan negara-negara sekular untuk memantapkan kemakmuran negerinya. Tawaran pinjaman ke negara-negara berkembang sejatinya adalah alat untuk memutar uang bagi mereka. Mereka juga senang-senang saja jika seorang diktator atau pembobol perbankan dari negara berkembang memasukkan uang hasil kejahatannya di bank-bank negeri mereka. Swiss, Monaco, atau Singapura sudah lama terkenal sebagai surga pencucian uang.
    Yang lebih parah, meski standar lingkungan di negara-negara maju itu tinggi, mereka membiarkan atau malah menjaga agar standar di negara berkembang tetap rendah supaya mereka bisa membuang sampah industrinya ke negara berkembang. Bahkan, sering sampah ini sampai dibeli oleh negara berkembang untuk bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali, seperti baju bekas atau mobil bekas dari Singapura.
    Ketika dihadapkan pada skop global ini, tampak bahwa negara-negara maju itu hanya peduli jika itu berkaitan dengan kepentingannya. Sebuah reportase dari Children-Right Watch (Komisi Pengawasan Hak Anak-anak), misalnya, melaporkan bahwa di Mexico dan Columbia, puluhan anak-anak diculik setiap harinya untuk diambil organ tubuhnya. Organ tubuh itu seperti lever, mata, bahkan jantung, diambil untuk memenuhi kebutuhan transplantasi organ bagi anak-anak di Amerika Serikat.
    Kesimpulannya, sekularisme, yang tampak berhasil di negara maju, sejatinya menyimpan bom waktu yang akan meledak pada masa depan di negeri mereka sendiri. Saat ini, dampak negatifnya sudah dirasakan di negara-negara berkembang.

    Sekularisme di Negara Berkembang
    Sekularisme adalah sebuah ideologi. Ideologi apapun, termasuk juga Sosialisme dan Islam, kalau dijalankan secara konsisten akan mampu memajukan sebuah bangsa, dengan catatan para pemimpinnya cakap, mampu memenej semua sumberdaya yang ada, dan sanggup menyelesaikan segala kendala yang merintangi proses kemajuan itu; baik dari dalam (KKN, friksi, disintegrasi) maupun dari luar (intervensi asing).
    Malaysia dalam beberapa segi ini tergolong berhasil. Sebelum era Abdullah Badawi, Mahathir, dengan undang-undang ISA-nya, berhasil menyingkirkan semua rival politisnya sehingga politiknya sangat efektif. Dia juga relatif tidak sekorup pemimpin jirannya (Indonesia) sehingga cukup dicintai oleh rakyatnya, apalagi dia pandai memainkan emosi rakyatnya yang Muslim dengan sering mengecam kebijakan luar negeri AS atas Palestina, sekalipun tidak pernah melakukan aksi apa-apa. Sejatinya, rakyat Malaysia merindukan penerapan syariat Islam. Di poin ini Mahathir juga pandai mengakomodasi aspirasi itu sehingga rakyat Malaysia pun menyangka negerinya sudah islami.
    Di Singapura penerapan sekularisme lebih mudah lagi karena mayoritas penduduknya memang non-Muslim. Kemajuan yang didapat tidak lain karena buah kerja keras serta sikap para pemimpinnya yang visioner dan tegas.

    Kesimpulan
    Jadi, pertanyaannya sebenarnya bukanlah mengapa sekulerisme berhasil di negara maju, namun seberapa lama sekularisme akan bertahan di negeri itu. Demikian juga untuk negara berkembang. Untuk jangka pendek, tentu saja sekularisme-bahkan sosialisme-juga bisa memajukan mereka, asal ada SDM berkualitas yang mampu menerapkannya.
    Keberhasilan penerapan suatu ideologi (termasuk ideologi Islam) sangat bergantung pada kualitas orangnya. Namun, ideologi yang tidak sahih seperti sekulerisme, tetap akan menyimpan bom waktu pada masa depan, atau di bagian dunia yang lain, sebaik apapun orangnya. []

    Dr.-Ing. Fahmi Amhar, Alumnus Vienna University of Technology, Austria.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s